Kamis, 30 Juni 2011

ANALISIS TINDAK TUTUR PRAGMATIK
PADA PAGELARAN KETOPRAK “PUTRI RAGIL KUNING”
KARYA HERMAN J. WALUYO DAN BUDI WALUYO
(Dalam Rangka Launching Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa,
FKIP UNS)

Nur Endah Ariningsih
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
FKIP UNS

ABSTRAK
Sebagai alat komunikasi, bahasa berkaitan erat dengan pragmatik yang memahami maksud tersirat maupun tersurat dibalik tuturan baik lisan maupun tulisan. Pragmatik menghubungkan makna dengan interpretasi ujaran yang melibatkan negoisasi antara penutur dan lawan tutur serta konteks ujaran dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran.
Peneliti menganalisis tindak tutur dalam pagelaran ketoprak berdasarkan ujaran yang dilakukan penutur/ pemain terhadap lawan tuturnya/ pemain yang lain dalam suatu konteks tertentu. Dalam hal ini, ada berbagai macam tindak ujar dengan beragam maksud dan tujuan yang mungkin akan berbeda penangkapannya antara pemain yang satu dengan pemain yang lainnya.
Prosedur pengumpulan data dalam karya tulis ini dilakukan melalui pengamatan secara langsung pada saat pementasan ketoprak berlangsung, teknik studi pustaka, dan partisipasi aktif dari penulis.
Dari hasil pembahasan diketahui bahwa terdapat jenis tindak lokusi, ilokusi, perlokusi dalam tindak ujaran dalam ketoprak dan ada lima jenis tindak tutur yaitu representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasif.
Kata kunci : Komunikasi, pragmatik, tindak tutur.

As a means of communication, language is closely related of pragmatic that understand impliet and literal utterance between the people. It connect the meaning of utterance that used by the speakers with a certain context and purpose.
The writer analyze the way to speak in ketoprak show based on each figure’s speech in a certain context. In this case, there are many speech with some meaning n goal that may be different accepting information of each person.
Technique of collecting the data used in this paper is on the spot observation. So the observation is done when the ketoprak show. Besides that, the writer also use the documents analysist, and with the writer’s active participation.
From the analysis-syntesis, the writer can conclude that there are locutionary act, illocutionary act, perlocutionary act in the ketoprak show with five kinds of speech act, there are representative, directive, exspresive, komisif, and declarative.
Key Word : communication, pragmatic, speech act.





PENDAHULUAN
Manusia dalam kehidupannya tidak akan mungkin terlepas dari bahasa sebagai sarana komunikasi. Meskipun bahasa bukanlah satu-satunya alat komunikasi karena ada pula isyarat, symbol, dan sebagainya namun boleh dikatakan bahwa bahasa memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Manusia pasti menggunakan bahasa dalam segala aktivitas, baik kegiatan sehari-hari maupun dalam hal ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Dalam tataran linguistik, bahasa bisa dikaji dari berbagai sudut pandang baik dari ilmu bahasa maupun interdisipliner ilmu bahasa. Dalam hal ini, pragmatic merupakan salah satu tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. Kalau tataran semantik mempelajari makna secara internal, maka pragmatik mengkaji makna secara eksternal atau makna yang terikat konteks.
Berkaitan dengan pragmatik, makna yang dikaji menggunakan sudut pandang sosial, menghubungkan makna pembicara (speaker meaning) dengan menggunakan sudut pandang kognitif. Pragmatik menghubungkan makna dengan interpretasi ujaran yang melibatkan negoisasi antara penutur dan lawan tutur serta konteks ujaran dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran.
Terkait dengan ujaran, dalam pementasan ketoprak tentunya memiliki beragam tuturan antara penutur dan lawan tutur dengan berbagai konteks dan tujuan yang dimaksudkan. Dari pementasan tersebut dapat penulis ketahui mengenai makna dari berbagai tindak tutur yang ada. Dalam hal ini, bermacam-macamnya makna yang mungkin dikemukakan didasarkan pada sejumlah aspek yang dipertimbangkan antara lain aspek penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan tuturan, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, maupun tuturan sebagai produk tindak verbal.
Tujuan penulisan karya tulis ini untuk mengetahui jenis-jenis tindak tutur apa sajakah yang terdapat dalam pementasan ketoprak dan makna apa yang terkandung di dalam tuturan tersebut jika dikaitkan dengan konteksnya.
Manfaat karya tulis ini secara teoretis yaitu dapat memberikan sumbangan berupa keilmuan yang dapat menambah wawasan para pembaca terkait dengan tindak tutur. Sedangkan secara praktis, bagi mahasiswa yaitu dapat meningkatkan keterampilan berbicara, baik keterampilan berbicara formal maupun nonformal dengan menggunakan tindak tutur yang sesuai konteks dan tujuannya.
Manfaat bagi pendidik yaitu untuk memperkaya khasanah model dan strategi dalam pembelajaran khususnya dalam hal pembelajaran tindak tutur atau pragmatik, memperbaiki metode mengajar yang selama ini digunakan agar dapat menciptakan kegiatan belajar mengajar yang menarik, serta dapat dijadikan sebagai masukan atau evaluasi bagi diri pendidik sendiri maupun bagi rekan sejawat pendidik dalam melaksanakan pembelajaran yang sama.
Manfaat bagi lembaga pendidikan yaitu dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam rangka memajukan dan meningkatkan prestasi lembaga pendidikan tersebut yang mungkin dapat disampaikan dalam forum khusus seperti pembinaan guru-guru maupun pada kesempatan lain.

METODE
Metode penulisan karya tulis ini menggunakan metode pengamatan. Pertama-tama penulis menyaksikan pagelaran ketoprak ”Putri Ragil Kuning” di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah pada hari Jum’at, 15 April 2011 pukul 20.00 WIB.
Data-data yang diamati penulis antara lain:
1. Situasi dan kondisi di ruang Teater Arena, termasuk para penonton yang hendak menyaksikan pagelaran tersebut.
2. Volume suara para pemain saat memainkan perannya di pagelaran ketoprak
3. Tuturan-tuturan para pemain
4. Konteks yang dimaksudkan penutur (pemain) dengan lawan tuturnya (lawan mainnya).
5. Makna yang ditangkap lawan tutur dari penutur
Data pokok yang digunakan sebagai acuan dalam penulisan karya tulis ini adalah tindak tutur (speech act) yang digunakan oleh para pemain dalam ketoprak. Prosedur pengumpulan data dalam karya tulis ini dilakukan melalui pengamatan secara langsung pada saat pementasan ketoprak berlangsung, teknik studi pustaka, dan partisipasi aktif dari penulis. Sementara itu, teknik pengolahan data yang digunakan yaitu dengan teknik analisis-sintesis berdasarkan pada fakta yang ada dengan merujuk pada berbagai sumber pustaka yang relevan kemudian ditarik suatu kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Sebagai alat komunikasi, bahasa berkaitan erat dengan pragmatik yang memahami maksud tersirat maupun tersurat dibalik tuturan baik lisan maupun tulisan. Leech (dalam Kurniawan : 2008) menyatakan bahwa pragmatic mempelajari maksud ujaran (yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan); menanyakan apa yang dimaksud seseorang dengan suatu tindak tutur; dan mengaitkan makna dengan siapa berbicara, kepada siapa, dimana, bilamana, dan bagaimana. Tindak tutur merupakan entitas yang bersifat sentral dalam pragmatik dan merupakan dasar bagi analisis topik-topik lain seperti praanggapan, implikatur, prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan.
Berkenaan dengan tindak tutur, Searle dalam (I Dewa & Muh.Rohmadi, 2009 : 21) mengemukakan bahwa secara pragmatic setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan seorang penutur, yaitu tindak lokusi (locutionary act), ilokusi (illocutionary act ), dan tindak perlokusi (perlocutionary act).
Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu (the act of saying something). Lokusi adalah konsep yang berkaitan dengan proposisi kalimat. Kalimat atau tuturan dipandang sebagai suatu satuan yang terdiri dua unsure yaitu subyek dan predikat, Nababan dalam (I Dewa & Muh.Rohmadi, 2009).
Tindak Ilokusi adalah tindak tutur yang digunakan untuk menginformasikan sesuatu sekaligus melakukan sesuatu atau sering disebut dengan The Act of Doing Something. Untuk memudahkan identifikasi, ada beberapa verbal yang menandai tindak tutur ilikusi antara lain : melaporkan, mengumumkan, bertanya, menyarankan, berterimakasih, mengusulkan, mengakui, mengucapkan selamat, dan sebagainya.
Tindak Perlokusi adalah suatu tuturan yang mempunyai efek atau daya pengaruh atau efek bagi yang mendengarkannya.efek atau daya pengaruh ini dapat secara sengaja atu tidak sengaja dikreasikan oleh penuturnya atau yang sering disebut dengan The Act of Affecting Someone.
Contoh tindak tutur yang mengandung lokusi, ilokusi, dan perlokusi antara lain :
 Rumahnya jauh
 Kemarin Ia sibuk
Kedua kalimat tersebut tentunya tidak hanya mengandung informasi atau lokusi semata. Bila kedua kalimat itu diucapkan kepada pimpinan rapat organisasi mahasiswa misalnya, maka ilokusinya secara tidak langsung menginformasikan bahwa seseorang yang dimaksudkan tidak bisa hadir rapat mungkin karena hujan dan tidak nge-kos. Perlokusinya yaitu agar pimpinan rapat bisa memakluminya. Sementara itu, kalimat kedua merupakan tindak ilokusi memohon maaf karena tidak bisa hadir dalam rapat sebelumnya, sehingga perlokusi yang diharapkan adalah pimpinan rapat bisa memaafkannya.
Lebih lanjut Searle dalam Musofa (2010) mengemukakan bahwa jenis-jenis tindak tutur dapat dikategorikan menjadi lima jenis :
a. Representatif / asertif : yaitu tindak tutur yang mengikat penuturnya akan kebenaran apa yang diujarkannya. Yang termasuk tindak tutur representatif misalnya tuturan menyarankan, melaporkan, menunjukkan, membanggakan, mengeluh, menuntut, menjelaskan, menyakan, mengemukakan, dan menyebabkan (Tarigan 1990:47).
b. Direktif/impisiotif : yaitu tindak tutur yang dilakukan penutur dengan maksud agar lawan tutur melakukan tindakan seperti yang disebutkan dalam ujaran itu.
c. Ekspresif : yaitu tindak tutur yang sesuai dengan ekspresi misalnya mengeluh.
d. Komisif : yaitu tindak tutur yang berfungsi mendorong pembicara melakukan sesuatu seperti menyatakan kesanggupan.
e. Deklarasi : yaitu tindak tutur yang dilakukan penutur dengan maksud untuk menciptakan hal yang baru. Tuturan-tuturan dengan maksud untuk mengesahkan, memutuskan, membatalkan, melarang, mengizinkan, menggolongkan, mengampuni, dan memaafkan termasuk dalam tindak tutur deklaratif.
Dalam kegiatan bertutur tentu seorang penutur harus mengambil perhatian pihak yang akan diajak berkomunikasi. Bisa dikatakan bahwa dalam komunikasi, fungsi tindak tutur dari suatu bentuk tuturan dapat lebih dari satu. Fungsi tersebut tergantung pada konteks yang mengacu ke tuturan yang mendahului atau mengikuti tuturan.
Kajian dari segi bentuk menggunakan tutur saling mengetahui faktor-faktor penentu tindak komunikasi yang meliputi :
a. Siapa yang berbahasa, dengan siapa : penutur harus melihat dengan siapa ia berbahasa dan melihat siapa orang yang berbahasa dengan penutur. Apabila menggunakan bahasa juga menyamaratakan antara orang yang satu dengan yang lain karena hal tersebut dapat menimbulkan beda penafsiran bagi lawan tutur.
b. Untuk tujuan apa : dalam berbahasa, hendaknya penutur menggunakan bahasa yang jelas dan untuk tujuan apa penutur berbicara sehingga lawan tutur tidak akan kesulitan dalam menangkap makna.
c. Situasi apa :penutur harus mengetahui situasi tindak komunikasi apakah formal maupun nonformal sehingga bahasa yang digunakan pun dapat disesuaikan.
d. Konteks apa : penutur harus dapat membedakan dalam konteks apa ia berbahasa. Penutur harus dapat menempatkan diri sebaik mungkin karena dalam sebuah tuturan apabila konteksnya berbeda tetapi tuturan masih sama dapat menimbulkan pengertian yang berbeda pula.
e. Jalur yang mana : penutur harus memperhatikan dalam jalur apa ia berbahasa apakah lewat jalur lisan (percakapan) maupun tulisan (tuturan-tuturan dalam cerita atau novel).
f. Media :tanpa media, suatu tindak komunikasi akan sulit ditentukan. Dalam hal ini media bisa berupa tatap muka, telepon, surat kabar, dan sebagainya.
g. Peristiwa apa : Peristiwa merupakan faktor penentu tindak komunikasi yang teratur. Dalam berbahasa, hendaknya penutur mengetahui dalam peristiwa apa ia berbahasa. Misalnya dalam peristiwa berpidato,ceramah, atau sekedar bercakap-cakap saja.
Berikut ini disajikan hasil dari tindak tutur yang didapatkan penulis dalam perakapan pada waktu pementasan ketoprak ”Putri Ragil Kuning” berdasarkan jenis tindakannya.


Tuturan Jenis Tindakan Alasan
Emban : menawi wonten prekawis, lha mbok dicritakne kula Perlokusi Penutur berusaha membujuk lawan tutur agar mau bercerita kepadanya.
RK : Kangmas Panji Asmara Bangun kuwi olehe lunga wis suwe banget Lokusi Penutur menginformasikan atau menyatakan bahwa kakaknya memang sudah lama pergi dan belum kembali
Emban : Lha wong donya menika jembare mekaten kok ajeng dipadosi Ilokusi
Perlokusi Tuturan tersebut mengandung ilokusi bahwa tokoh emban menolak ajakan Ragil Kuning, sehingga perlokusinya diharapkan Emban tidak jadi diajak mencari Panji.
Emban : Waduh, kula ajrih kaliyan Rama Prabu Gusti Perlokusi Penutur (emban) memang benar-benar takut pada Rama Prabu sehingga ia berharap agar tidak jadi pergi supaya tidak dimarahi.
Emban : lha mangke menawi kula diculik pripun? Perlokusi Emban berharap Ragil Kuning tidak memaksanya pergi.
Patih : para prajurit tansah siaga ing gati Lokusi Penutur menyatakan bahwa prajurit dalam konsisi baik-baik saja dan tak perlu ada yang dikhawatirkan.
RJ : Praja Jenggala kene bakal mbabar pawiyatan sing anyar kang nyinaoni babagan kabudayan Jawa. Lokusi Kalimat tersebut diutarakan untuk menginformasikan sesuatu yaitu akan dibukanya program studi bahasa Jawa
Prameswari : Mbokbilih kesahe Nimas Ragil Kuning amargi badhe madosi Kakangipun, Panji Asmara Bangun Lokusi Kalimat tersebut menginformasikan alasan kepergian Ragil Kuning.
Yu Sri : Setoran...iki wis tanggal 15... Ilokusi & Perlokusi Ilokusinya adalah membeingatan bon dan perlokusinya supaya bon-nya segera dibayar.
Perampok 3 : pagi hari baca koran, dina iki prei ora ana setoran! Perlokusi Penutur (perampok 3) bermaksud agar Yu Sri tidak memintai setoran dulu karena belum ada uang.
Perampok 1 : ana kuthuk marani sunduk... Ilokusi & Perlokusi Ilokusinya agar kedua perampok lainnya segera menangkap RK dan Mbok Mban, perlokusinya agar kedua tawanan tersebut segera menyerahkan diri.
Enthit : Yen seneng, kabeh iso mbok duweni. Yen perlu awakku mbok duweni sisan. Perlokusi Penutur (Enthit) berharap agar Ragil Kuning berkenan menjadi istrinya.
RK : Aku wis ana sing nduwe Enthit.. Perlokusi RK berharap agar Enthit tidak mengejar-ngejar dia karena dia sudah dimiliki Gunungsari.
RK : Aku dioyak-oyak nom-noman desa kene sing arane Enthit... Lokusi RK memberitahu bahwa dia dalam kondisi bahaya karena dikejar-kejar Enthit.
Bancak : Pun njenengan pasrahaken dhumateng kula lan Doyok. Perlokusi Bancak berusaha meyakinkan RK agar ia tidak takut karena Bancak dan Doyok mampu mengalahkan Enthit.
RK : Kangmas punika mbok ampun ngendika mekaten to...! Ilokusi RK meyakinkan Gunungsari agar ia tidak cemburu.
Gunungsari : Jenengku Gunungsari! Putra Raja Kedhiri, calon gawrane Diajeng Ragil Kuning. Lokusi Gunungsari menginformasikan siapa dirinya yang sebenarnya.

Berikut ini disajikan hasil dari tindak tutur yang didapatkan penulis dalam perakapan pada waktu pementasan ketoprak ”Putri Ragil Kuning” berdasarkan jenis tindak tuturnya.

Tuturan Jenis Tindak Tutur Alasan
Emban : Menawi mbiyen kula mboten kesesa dilamar Pak’e Ndewor, kula lak genah pun dados psikolog! Representatif Tuturan tersebut mengikat penuturnya akan kebenaran isi tururannya bahwa ia tidak jadi psikolog karena lebih dulu dilamar.
RK : Kowe lak ya ngerti tho, Kakangku, Kangmas Panji Asmara Bangun kuwi olehe lunga wis suwe banget, ora ana kabare, aku dadi was sumelang. Representatif Penutur mencoba meyakinkan kepada lawan tutur bahwa Panji benar-benar sudah lama pergi dan membuatnya was-was.
Emban : Pitados tho kaliyan kula, menawi Ndara Panji saget njagi keslametanipun. Direktif
Tuturan ini dimaksudkan agar lawan tutur percaya pada penutur untuk tidak mencari Panji karena Panji pasti bisa menjaga diri.
Emban : Lha wong donya menika jembare mekaten kok ajeng dipadosi,,, Ekspresif Tuturan ini dimaksudkan bahwa tokoh emban mengeluh atau cari-cari alas lawan agar tidak diajak pergi mencari Panji.
RK : Ya digoleki ning ndi wae, waton bisa ketemu. Direktif Tuturan ini dimaksudkan agar lawan tutur mau melaksanakan perintahnya, yaitu mencari Panji hingga ketemu.
RK : Kowe gelem ngancani aku to Yung? Direktif Tuturan ini dimaksudkan agar lawan tutur mau menerima ajakannya.
RK : Saiki ayo budhal nggoleki Kakang Panji! Direktif Tuturan ini dimaksudkan untuk mendesak lawan tutur agar menuruti perintahnya.
Emban : Kula ajrih kaliyan Rama Prabu Gusti, mangke kula lak didukani Ekspresif Tuturan ini bersifat mengeluh atau takut kalau nekat pergi maka akan terkena marah.
Emban : Lha mangke menawi kula diculik pripun? Deklarasi Tuturan tersebut bermaksud menolak ajakan si penutur.
Raja Jenggala : Praja Jenggala kene bakal mbabar pawiyatan sing anyar kang nyinaoni babagan kabudayan Jawa. Representatif Tuturan tersebut mengikat penuturnya akan kebenaran isi tuturan bahwa memang benar akan dibuka pendidikan bahasa Jawa.
Raja Jenggala :ana limang bab sing kudu dilaksanakake supaya para kawula nemoni kahanan panguripan kang luwih becik, yaiku....1-5 Direktif Tuturan ini bermaksud menasihati agar lawan tutur mematuhi apa yang telah disarankan oleh penutur.
Raja Jenggala : Pimpinan kudu nduweni karakter sing becik yaiku amanah lan iso dadi tuladha. Direktif Tuturan ini bermaksud menasihati agar lawan tutur mematuhi apa yang telah disarankan oleh penutur
Gunungsari : Sedaya ingkang sampun dipunaturaken Kanjeng Sinuwun badhe kawula esthokaken Komisif Tuturan ini mengikat penuturnya untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Ini termasuk tindak tutur komisif berjanji.
Perampok 1 : Walah, nyambut gawe kok saiki angel temen! Ekspresif Tuturan ini merupakan tindak tutur ekspresif mengeluh bahwa dahulu bekeerja itu mudah dan sekarang sulit.
Yu Sri : Iki wis tanggal 15, wayahe dho setor! Direktif Termasuk tindak tutur direktif menagih agar lawan tutur segera membayar tagihannya.
Perampok 2 : Kepada yang tergalak Yu Sri, Hormat grak! Direktif Termasuk tindak tutur direktif memberi aba-aba agar lawan tutur melaksanakan sesuai aba-aba yang diberikan.
Perampok 1,2,3 : Jangan kejam-kejam tho Yu...kami ini anak telantar...ampuni kami Yu...huhuhuuu... Deklarasi Termasuk tindak tutur deklarasi melarang dan memohon maaf.
RK : Eh, kisanak, matur nuwun ya...aku wis mbok tulungi. Nek ora ana kowe mbuh piye dadine. Representatif Tuturan ini mengikat penuturnya akan kebenaran tuturan bahwa memang ia berhasil diselamatkan oleh kisanak (Enthit)
RK : Aku wis ana sing nduwe Thit! Pokoke emoh! Deklarasi Tuturan ini bermaksud memutuskan bahwa penutur (Ragil Kuning) menolak tawanan lawan tutur (Enthit) yang bermaksud ingin menikahinya.



KESIMPULAN
Dari uraian yang telah penulis paparkan sebelumnya, dapat disimpulkan :
1. Tindak tutur merupakan entitas yang bersifat sentral dalam pragmatik dan merupakan dasar bagi analisis topik-topik lain seperti praanggapan, implikatur, prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan.
2. Jenis tindakan dalam tindak tutur dibedakan menjadi tiga yaitu tindak lokusi, tindak ilokusi, dan tindak perlokusi. Sementara itu, jenis tindak tutur diklasifikasikan menjadi lima jenis yaitu representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasif.
3. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk memudahkan seseorang dalam memperoleh informasi dari tindak tutur antara lain : 1) siapa yang berbahasa dan dengan siapa;2) untuk tujuan apa;3) dalam situasi apa;4)dalam konteks apa;5)jalur yang mana;6)media apa;dan 7) dalam peristiwa apa.


DAFTAR PUSTAKA

Budhi Setiawan. 2006. Pragmatik : Sebuah Pengantar. Surakarta : Universitas Sebelas Maret.

I Dewa Putu W. dan M.Rohmadi. 2009. Analisis Wacana Pragmatik : Kajian Teori dan Analisis. Surakarta : Yuma Pustaka.

Kurniawan. 2008. Tindak Tutur.http://awan80.blogspot.com/2008/07/tindak-tutur.html. Diakses tanggal 19 April 2011.

Musofa.2010.TindakTutur.http://wawanjunaidi.blogspot.com/2010/02/klasifikasi-tindak-tutur.html. Diakses tanggal 19 April 2011.

1 komentar:

  1. Thanks... Infonya, Mbak.. Indah....sangat bermanfaat, semoga ada artikel lain yah...

    BalasHapus