Nur Endah Ariningsih
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
JPBS FKIP UNS
email : endahnur66@yahoo.co.id
ABSTRAK
Sebagai alat komunikasi, bahasa berkaitan erat dengan pragmatik yang memahami maksud tersirat maupun tersurat dibalik tuturan baik lisan maupun tulisan. Makalah ini mengulas tentang tindak tutur dalam tulisan SMS INBOX koran kampus AK-47 yang diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) MOTIVASI FKIP UNS. Tujuan penulisan makalah ini untuk mengetahui jenis-jenis tindak tutur apa sajakah yang terdapat dalam SMS INBOX AK-47 serta maksud apa yang mungkin terkandung di dalamnya. Dalam makalah ini, penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan content analysis dan teknik purposive sampling. Tindak tutur yang terdapat dalam rubrik SMS INBOX AK-47 berupa tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Tindak tutur yang sering muncul dalam tuturan pada tulisan tersebut adalah tindak tutur perlokusi dan ilokusi yang terdiri dari tindak tutur asertif, ekspresif, dan komisif.
Kata kunci: pragmatik, tindak tutur, SMS INBOX
A. PENDAHULUAN
Dalam tataran linguistik, bahasa bisa dikaji dari berbagai sudut pandang baik dari ilmu bahasa maupun interdisipliner ilmu bahasa. Dalam hal ini, pragmatik merupakan salah satu tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. Kalau tataran semantik mempelajari makna secara internal, maka pragmatik mengkaji makna secara eksternal atau makna yang terikat konteks.
Pragmatik menghubungkan makna dengan interpretasi ujaran yang melibatkan negoisasi antara penutur dan lawan tutur serta konteks ujaran dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran. Dalam kegiatan bertutur tentu seorang penutur harus mampu mengaitkan kalimat-kalimat tuturnya dengan konteks yang sesuai bagi pihak yang akan diajak berkomunikasi. Bisa dikatakan bahwa dalam komunikasi, fungsi tindak tutur dari suatu bentuk tuturan dapat lebih dari satu. Fungsi tersebut tergantung pada konteks yang mengacu ke tuturan yang mendahului atau mengikuti tuturan.
Fakta yang ada, terkadang seseorang tidak menggunakan bahasa dalam wujud tuturan yang lengkap dan sesuai kaidah gramatikal. Salah satu contohnya, yaitu penggunaan bahasa dalam SMS INBOX koran kampus AK-47. Meskipun demikian, komunikasi antarpemakai di dalam SMS INBOX dapat berjalan lancar karena mereka mengerti maksud yang terdapat dalam tulisan tersebut.
Berdasarkan latar belakang tersebut, pada makalah ini akan dibahas mengenai tindak tutur apa sajakah yang terdapat dalam tulisan SMS INBOX. Tujuan penulisan makalah ini untuk mengetahui jenis-jenis tindak tutur apa sajakah yang terdapat dalam SMS INBOX AK-47 serta maksud apa yang mungkin terkandung di dalamnya.
B. KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
Sebagai alat komunikasi, bahasa berkaitan erat dengan pragmatik yang memahami maksud tersirat maupun tersurat dibalik tuturan baik lisan maupun tulisan.
Morris (dalam http: //guruumarbakri.blogspot.com/) mengatakan bahwa pragmatik merupakan disiplin ilmu yang mempelajari pemakaian tanda, yang secara spesifik dapat diartikan sebagai cara orang menggunakan tanda bahasa dan cara tanda bahasa itu diinterpretasikan.
Yule (dalam http://guruumarbakri.blogspot.com/) menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna penutur; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. Sedangkan Leech (dalam http://awan80.blogspot.com) menyatakan bahwa pragmatik mempelajari maksud ujaran (yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan); menanyakan apa yang dimaksud seseorang dengan suatu tindak tutur; dan mengaitkan makna dengan siapa berbicara, kepada siapa, dimana, bilamana, dan bagaimana.
Pragmatik erat kaitannya dengan tindak tutur (speech act). Tindak tutur merupakan entitas yang bersifat sentral dalam pragmatik dan merupakan dasar bagi analisis topik-topik lain, seperti : praanggapan, implikatur, prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan.
Berkenaan dengan tindak tutur, Searle (dalam I Dewa & Muh.Rohmadi, 2009 : 21) mengemukakan bahwa secara pragmatik setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan seorang penutur, yaitu tindak lokusi (locutionary act), ilokusi (illocutionary act ), dan tindak perlokusi (perlocutionary act).
Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu (the act of saying something). Lokusi adalah konsep yang berkaitan dengan proposisi kalimat. Kalimat atau tuturan dipandang sebagai suatu satuan yang terdiri dua unsur yaitu subyek dan predikat, Nababan dalam (I Dewa & Muh.Rohmadi, 2009).
Tindak Ilokusi adalah tindak tutur yang digunakan untuk menginformasikan sesuatu sekaligus melakukan sesuatu atau sering disebut dengan The Act of Doing Something. Untuk memudahkan identifikasi, ada beberapa verbal yang menandai tindak tutur ilokusi, antara lain : melaporkan, mengumumkan, bertanya, menyarankan, berterimakasih, mengusulkan, mengakui, mengucapkan selamat, dan sebagainya.
Tindak Perlokusi adalah suatu tuturan yang mempunyai efek atau daya pengaruh atau efek bagi yang mendengarkannya.Efek atau daya pengaruh ini dapat secara sengaja atu tidak sengaja dikreasikan oleh penuturnya atau yang sering disebut dengan The Act of Affecting Someone.
Dalam perkembangannya, Searle (dalam http://guruumarbakri.blogspot.com/) mengembangkan teori tindak tuturnya terpusat pada ilokusi. Pengembangan jenis tindak tersebut berdasarkan pada tujuan dari tindak, dari pandangan penutur. Secara garis besar pembagian tindak tutur menurut Searle adalah sebagai berikut.
1. Asertif (Assertives): pada ilokusi ini, penutur terikat pada kebenaran proposisi yang diungkapkan, misalnya saja menyatakan, mengusulkan, membuat, mengeluh, mengemukakan pendapat, dan melaporkan.
2. Direktif (Directives): ilokusi ini bertujuan menghasilkan suatu efek berupa tindakan yang dilakukan oleh penutur, misalnya : memesan, memerintah, memohon, menuntut, dan memberi nasihat.
3. Komisif (Commissives): pada ilokusi ini penutur sedikit banyak terikat pada suatu tindakan di masa depan, misalnya : menjanjikan, menawarkan. Jenis ilokusi ini cenderung berfungsi menyenangkan dan kurang bersifat kompetitif karena tidak mengacu pada kepentingan penutur, tetapi pada kepentingan petutur (mitra tutur).
4. Ekspresif (Expressive): fungsi ilokusi ini ialah mengungkap atau mengutarakan sikap psikologis penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi, misalnya: mengucapkan terima kasih, mengucapkan selamat, memberi maaf, mengecam, memuji, mengucapkan belasungkawa, dan sebagainya.
5. Deklarasi (Declaration): berhasilnya pelaksanaan ilokusi ini akan mengakibatkan adanya kesesuaian antara isi proposisi dengan realitas, misalnya: mengundurkan diri, memecat, memberi nama, menjatuhkan hukuman, mengucilkan/ membuang, mengangkat, dan sebagainya. (http://wawan-junaidi.blogspot.com)
C. METODE PENELITIAN
Dalam makalah ini, penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan content analysis yang berupa pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis dari sebuah media massa. Data pokok yang digunakan berupa SMS INBOX AK-47 edisi 114-116 tahun 2011. Teknik pengampilan data dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling yaitu terlebih dahulu menentukan sampel yang karakteristiknya sudah ditentukan dan diketahui lebih dulu berdasarkan ciri dan sifat populasinya. Jadi, jika penulis mengambil data dari rubrik SMS INBOX AK-47 maka, yang dijadikan sampel adalah beberapa data yang terdapat di rubrik SMS INBOX AK-47, bukan data yang lain.
Teknik analisis data yang digunakan penulis adalah teknik studi pustaka. Penulis mengambil data dari SMS INBOX AK-47 dan dikembangkan berdasarkan kajian teori dari berbagai sumber pustaka.
C. PEMBAHASAN
Rubrik SMS INBOX AK-47 merupakan rubrik bagi para pembaca koran kampus AK-47 untuk menyampaikan saran, keluhan, usulan, maupun kritikan tentang berbagai persoalan yang sedang terjadi di kampus yang dirasakan atau diketahui oleh pembaca. Rubrik ini tentunya mempunyai nama yang berbeda-beda pula di setiap surat kabar. Misalnya di harian SOLOPOS menamai rubrik ini dengan Kriing SOLOPOS, harian Joglosemar menamai dengan rubric RAKYAT BICARA dan sebagainya.
Pada rubrik ini, penulis (pembaca, mahasiswa, dosen-pen) mengirimkan tulisannya lewat pesan singkat melalui HP ke nomor tujuan yang tertera di bawahnya atau melalui email LPM MOTIVASI FKIP UNS dengan menggunakan bahasa tulis karena komunikasi penulis dan pembaca menggunakan media surat kabar. Selain itu, penulis pun menyadari akan keterbatasan ruang, dan waktu media yang digunakan, sehingga penulis harus mengikuti aturan kode etik jurnalistik, yaitu menggunakan ragam bahasa yang singkat, jelas, sederhana, dan menarik pembaca
Berikut ini akan penulis sajikan beberapa data SMS INBOX AK-47 edisi 114-116 beserta analisisnya.
1. (085725353XXX)
Saya mahasiswa FKIP UNS “Berkarakter kuat dan cerdas”, mbayar SPP dengan fasilitas yang didapat berbeda!
Analisis : tuturan tersebut tidak hanya menginformasikan sesuatu, tetapi juga bermaksud melakukan sesuatu, yaitu mengeluhkan keadaan di FKIP UNS yang ternyata tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Mungkin karena ia sudah membayar mahal namun realitanya tidak sesuai dengan harapan. Dari keluhannya tersebut diharapkan bisa menyadarkan pihak-pihak terkait yntuk lebih memperbaiki fasilitas yang ada agar sesuai dengan pengorbanan mahasiswa. Tindak tutur tersebut termasuk tindak ilokusi jenis asertif.
2. (Yudith)
Kuliah “nyaman” banget! Udah kipas angin tidak menyala, LCD tidak ada, belajar jadi tidak efektif.
Analisis : dari tuturan tersebut menunjukkan bahwa si penulis bermaksud menyatakan keluhannya melalui sindiran dengan menggunakan diksi “nyaman”, meskipun faktanya tidak seperti itu. Ini termasuk jenis Ilokusi yang berarti tidak hanya untuk menginformasikan sesuatu tetapi juga mendorong pembacanya untuk melakukan sesuatu. Dalam hal ini, diharapkan pihak birokrat atau yang bersangkutan bisa segera memperbaiki fasilitas kipas angin dan LCD yang ada di kelas tersebut. Tindak tutur ini termasuk tindak ilokusi jenis asertif mengeluh.
3. (Surya PTM 2009)
BEM FKIP jangan membodohi mahasiswa FKIP dengan menggunakan kartu suara pemilihan dekan FKIP. Itu pembodohan massal!
Analisis: tuturan tersebut menunjukkan kekecewaan penutur kepada lawan tutur (pihak BEM FKIP) yang menurutnya telah membodohi mahasiswa melalui kartu suara. Tuturan ini bisa dimasukkan dalam jenis tindak perlokusi. Adapun efek perlokusi yang diharapkan agar ke depannya BEM menggunakan cara lain untuk pemilihan dekan selain menggunakan kartu suara.
4. (058747320XXX)
Saya tidak mau jika PTK harus berdampingan dengan rumah sakit milik kedokteran. Lebih baik menderita di kampus V Pabelan yang amburadul daripada dijajah FK.
Analisis: tuturan tersebut termasuk jenis tindak perlokusi. Namun, terdapat pula ilokusinya yang secara tidak langsung untuk menginformasikan bahwa mahasiswa PTK tidak ingin dipindahkan di dekat rumah sakit milik kedokteran. Sedangkan efek perlokusi yang diharapkan yaitu agar mahasiswa PTK tetap berada di kampus V Pabelan, karena mereka lebih nyaman di sana.
5. (Arviant-FKIP)
Kok hotspot PGSD sering mati dan lemot ya? Tapi buat satu orang kok bisa cepet? Thanks yang bias kasih penjelasan.
Analisis : tuturan tersebut selain berfungsi untuk menginformasikan juga bermaksud untuk melaporkan agar pihak yang terkait masalah tersebut lebih mengelola fasilitas hotspot dengan baik. Tuturan ini termasuk jenis tindak ilokusi jenis ekspresif-mengeluh.
6. (Puji Indah-Sastra Indonesia)
Kampus kita seringkali kecurian barang-barang yang sering dipakai di kelas. Padahal selesai perkuliahan kelas dikunci. Bagaimana kalau diberi CCTV supaya aman, jadi tiap kelas dikasih kamera biar jelas.
Analisis : tuturan tersebut tergolong jenis tindak ilokusi yang berfungsi untuk memberikan saran/solusi yang lebih baik agar kehilangan fasilitas-fasilitas di kelas tidak terjadi lagi. Tindak tutur ini termasuk jenis ilokusi komisif karena penutur sedikit banyak terikat pada suatu tindakan di masa depan yaitu ‘mengusulkan cara’.
7. (Nufi-PLB)
Pembangunan gedung tidak ada kejelasannya, kenapa terhenti? Kalau memang ingin direnovasi ya harus benar-benar dilaksanakan.
Analisis : tuturan tersebut termasuk ke dalam tindak ilokusi dan perlokusi. Selain menginformasikan sesuatu tuturan tersebut juga berfungsi untuk melakukan sesuatu yaitu memerintah agar pembangunan gedung segera diselesaikan. Sementara itu, efek perlokusi yang diharapkan adalah agar pihak birokrat yang mengurusi masalah pembangunan gedung tersebut segera merealisasikan proyeknya, bukan malah terhenti dalam waktu yang cukup lama.
8. (Andrian-PLB)
Kamar mandi gedung E tidak layak pakai, masak cowok sama cewek tempatnya dicampur?
Analisis : tuturan tersebut bukan semata-mata melaporkan sesuatu, tetapi secara tidak langsung merupakan masukan agar kamar mandi di gedung E dipisahkan antara kamar mandi untuk laki-laki dan perempuan. Tuturan ini termasuk jenis tindak perlokusi.
D. SIMPULAN
Tindak tutur merupakan bagian dari peristiwa tutur yang merupakan fenomena aktual dalam situasi atau suatu tindakan yang diikuti oleh pengungkapan kata-kata atau kalimat yang didukung oleh ekspresi tertentu dengan mengaitkan konteks yang mendasari penjelasan pengertian suatu bahasa. Dalam tindak tutur, satu bentuk ujaran dapat mempunyai lebih dari satu fungsi dan di dalam komunikasi yang sebenarnya satu fungsi ujaran dapat dinyatakan, dilayani, atau di utarakan dalam berbagai bentuk ujaran.
Tindak tutur yang terdapat dalam rubrik SMS INBOX AK-47 berupa tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Tindak tutur yang sering muncul dalam tuturan pada tulisan tersebut adalah tindak tutur perlokusi dan ilokusi yang terdiri dari tindak tutur asertif, ekspresif, dan komisif.
DAFTAR PUSTAKA
Budhi Setiawan. 2006. Pragmatik : Sebuah Pengantar. Surakarta : Universitas Sebelas Maret.
I Dewa Putu W. dan M.Rohmadi. 2009. Analisis Wacana Pragmatik : Kajian Teori dan Analisis. Surakarta : Yuma Pustaka.
Imron Rosidi. 2009. Mengenal Pragmatik. http://guru-umarbakri.blogspot.com/2009/05/kajian-bahasa.html. Diakses tanggal 16 Juni 2011.
Kurniawan. 2008. Tindak Tutur.http://awan80.blogspot.com/2008/07/tindak-tutur.html. Diakses tanggal 19 April 2011.
Musofa.2010.TindakTutur.http://wawanjunaidi.blogspot.com/2010/02/klasifikasi-tindak-tutur.html. Diakses tanggal 19 April 2011.
Kamis, 30 Juni 2011
Minggu, 06 Maret 2011
Sepenggal Episode...
Oleh : Nur Endah A
Cinta…ya…setiap orang sesuai fitrahnya pasti memiliki rasa cinta…menginginkan untuk bisa mencintai dan dicintai pula. Sering ku dengar definisi tentang cinta..namun bagiku cinta adalah sebuah kekuatan yang mungkin tak terdefinisikan karena cinta telah cukup dijelaskan oleh cinta itu sendiri…
Sebut saja aku Ria (nama samaran). Hatiku tertaut pada salah seorang pemuda, Hasan (samaran) namanya. Telah kupendam rasa itu setahun lamanya. Sebenarnya aku tak ingin mengungkapkan ini semua. Namun, semakin aku mengelak, semakin aku tak bisa membohongi hatiku sendiri. Lalu aku pun memutuskan tuk mengakuinya. Ya...kepada pemuda itu...
“Dek, disetiap kejujuran itu pasti ada hikmahnya, Allah suka orang yang jujur karena itu salah satu sifat para Nabi, jika adek udah jujur maka adek udah terlepas dari beban...”, kata itulah yang aku dengar kala ia tahu isi hatiku yang sesungguhnya. Ya...kata–kata itu begitu menyejukkan hatiku.
Tapi....Betapa terkejutnya aku setelah ia ungkapkan bahwa ia telah memiliki calon istri. Dadaku sesak hingga sulit tuk bernafas, perlahan air mataku pun mengalir. Apa mungkin karena aku terlambat jujur? seharusnya sebelum ia punya orang lain aku terlebih dahulu mengatakan, termasuk saat dia menebak dulu rasaku itu, sesalku dalam hati. Ah, tapi tiada guna ku sesali…mungkin ini memang jalan takdirku. Ya...aku pun mencoba menenangkan hatiku.
Seketika itu ku putuskan tuk kuatkan hatiku, meski aku rapuh, meski deras airmata tak kuasa ku hentikan, aku tetap berkata padanya “ Tidak apa-apa mas,,,semoga berbahagia”, kataku. “Iya, aku mengerti dan aku mengakui itu Dek, trimakasih atas perhatian dan ketulusanmu, semoga engkau pun demikian,,”, jawabnya lemah.
Ya Allah, aku sungguh mencintai-Mu lebih dari apapun. Namun aku hanya manusia biasa, yang juga mencintai hamba-Mu... Slalu ku sebut namanya dalam tiap tahajudku....hatiku tergetar...mataku berurai airmata...tengadahku penuh harap akan ia. Tapi kini ia telah dimiliki orang lain…curhatku pada-Nya.
Ah, mungkin ia memang bukan tercipta untukku, meski bagiku ia adalah sosok pemuda yang cukup baik, tutur katanya lembut, sikapnya mempesona, rajin, shaleh, dan selalu menebar senyum sederhananya itu. Perlahan ku coba melupakannya dan membuka pintu hatiku untuk orang lain walau tautanku terhadapnya seakan tak bisa terputus. Aku harus bisa, aku harus tegar, jangan sampai aku lemah, begitulah semangatku. Biarlah jiwa ragaku tetap bernyanyi menghibur diri hingga kelak kan datang pemuda lain sebagai penggantinya yang lebih baik.
Dan seiring berjalannya waktu, aku pun bertemu pemuda lain yang memang bagiku lebih baik darinya. Sepenuhnya jiwaku pun bisa mencintainya hingga berakhir dalam suatu perjanjian tuk senantiasa bersama. Ya,,,aku telah bertemu ia, pemuda lain, yang tak lain adalah “teman hidupku”.
Pembaca yang budiman, begitulah cara Allah memberikan kejutan pada hamba-Nya. Ketahuilah bahwa ternyata “Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik pula menurut-Nya”. Ibarat kita minta mawar tapi diberi batang yang berduri, namun kelak batang itu akan menumbuhkan mawar yang lebih indah dan harum pada waktunya. Itulah buah dari kesabaran. Seperti halnya hidup, mati, atau rezeki, jodoh adalah salah satu rahasia terbesar-Nya. Maka jangan khawatir, cinta akan indah pada waktunya, serahkan semua kepada-Nya yang tahu mana yang terbaik buat kita. Tetap optimis, berdoa dan berikhtiar menjemput “teman sejati” kita.
Cinta…ya…setiap orang sesuai fitrahnya pasti memiliki rasa cinta…menginginkan untuk bisa mencintai dan dicintai pula. Sering ku dengar definisi tentang cinta..namun bagiku cinta adalah sebuah kekuatan yang mungkin tak terdefinisikan karena cinta telah cukup dijelaskan oleh cinta itu sendiri…
Sebut saja aku Ria (nama samaran). Hatiku tertaut pada salah seorang pemuda, Hasan (samaran) namanya. Telah kupendam rasa itu setahun lamanya. Sebenarnya aku tak ingin mengungkapkan ini semua. Namun, semakin aku mengelak, semakin aku tak bisa membohongi hatiku sendiri. Lalu aku pun memutuskan tuk mengakuinya. Ya...kepada pemuda itu...
“Dek, disetiap kejujuran itu pasti ada hikmahnya, Allah suka orang yang jujur karena itu salah satu sifat para Nabi, jika adek udah jujur maka adek udah terlepas dari beban...”, kata itulah yang aku dengar kala ia tahu isi hatiku yang sesungguhnya. Ya...kata–kata itu begitu menyejukkan hatiku.
Tapi....Betapa terkejutnya aku setelah ia ungkapkan bahwa ia telah memiliki calon istri. Dadaku sesak hingga sulit tuk bernafas, perlahan air mataku pun mengalir. Apa mungkin karena aku terlambat jujur? seharusnya sebelum ia punya orang lain aku terlebih dahulu mengatakan, termasuk saat dia menebak dulu rasaku itu, sesalku dalam hati. Ah, tapi tiada guna ku sesali…mungkin ini memang jalan takdirku. Ya...aku pun mencoba menenangkan hatiku.
Seketika itu ku putuskan tuk kuatkan hatiku, meski aku rapuh, meski deras airmata tak kuasa ku hentikan, aku tetap berkata padanya “ Tidak apa-apa mas,,,semoga berbahagia”, kataku. “Iya, aku mengerti dan aku mengakui itu Dek, trimakasih atas perhatian dan ketulusanmu, semoga engkau pun demikian,,”, jawabnya lemah.
Ya Allah, aku sungguh mencintai-Mu lebih dari apapun. Namun aku hanya manusia biasa, yang juga mencintai hamba-Mu... Slalu ku sebut namanya dalam tiap tahajudku....hatiku tergetar...mataku berurai airmata...tengadahku penuh harap akan ia. Tapi kini ia telah dimiliki orang lain…curhatku pada-Nya.
Ah, mungkin ia memang bukan tercipta untukku, meski bagiku ia adalah sosok pemuda yang cukup baik, tutur katanya lembut, sikapnya mempesona, rajin, shaleh, dan selalu menebar senyum sederhananya itu. Perlahan ku coba melupakannya dan membuka pintu hatiku untuk orang lain walau tautanku terhadapnya seakan tak bisa terputus. Aku harus bisa, aku harus tegar, jangan sampai aku lemah, begitulah semangatku. Biarlah jiwa ragaku tetap bernyanyi menghibur diri hingga kelak kan datang pemuda lain sebagai penggantinya yang lebih baik.
Dan seiring berjalannya waktu, aku pun bertemu pemuda lain yang memang bagiku lebih baik darinya. Sepenuhnya jiwaku pun bisa mencintainya hingga berakhir dalam suatu perjanjian tuk senantiasa bersama. Ya,,,aku telah bertemu ia, pemuda lain, yang tak lain adalah “teman hidupku”.
Pembaca yang budiman, begitulah cara Allah memberikan kejutan pada hamba-Nya. Ketahuilah bahwa ternyata “Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik pula menurut-Nya”. Ibarat kita minta mawar tapi diberi batang yang berduri, namun kelak batang itu akan menumbuhkan mawar yang lebih indah dan harum pada waktunya. Itulah buah dari kesabaran. Seperti halnya hidup, mati, atau rezeki, jodoh adalah salah satu rahasia terbesar-Nya. Maka jangan khawatir, cinta akan indah pada waktunya, serahkan semua kepada-Nya yang tahu mana yang terbaik buat kita. Tetap optimis, berdoa dan berikhtiar menjemput “teman sejati” kita.
Rabu, 26 Januari 2011
Untuk Kawan Hidupku, yang Ku Belum Tahu Siapa…….
Apa kabarmu hari ini?
Rindu demi rindu menyatu dalam relung hatiku
Entah dimana dirimu sekarang, tapi aku yakin Allah selalu mencintaimu sebagaimana Dia mencintaiku….
Kawan hidupku,,,
Apa yang kuharapkan darimu adalah kesalihan
Dan semoga engkau pun demikian,,,
Aku tahu…."Dinikahi seorang wanita karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah agamannya, maka beruntunglah kedua tanganmu".
Itulah sebuah pijakan utama buatmu memilih calon isteri..
Kawan hidupku,,,
Jika harta yang engkau idamkan,.
maka ketahuilah diriku bukanlah orang yang berada.
Tiada harta yang dapat kupersembahkan dalam ijab-kabul kita nanti.
Jika keturunan yang engkau dambakan,
ketahuilah bahwa aku hanyalah manusia biasa dari keluarga yang biasa pula.
Kecantikan??
Ya… aku pun meyakini bahwa engkau juga tidak terlepas seperti manusia yang lainnya.
Ketahuilah wahai Kawan hidupku,,,,
Jika kecantikan yang engkau inginkan dariku,
maka engkau telah salah langkah
karena telah aku hijabkan kecantikan diriku ini
dengan agama yang aku yakini ini.
Kawan hidupku,,,
Kelak….
Bimbinglah aku tuk jadi pendamping yang solehah,
agar aku termasuk salah satu bidadari surgamu.
Tapi maafkan aku…..
Aku ini pencemburu berat….
Namun jika Allah dan Rasul lebih kau cintai daripada aku, aku rela..
Kawan hidupku,,,
Bunga akan indah pada waktunya.
Maka kini tengah kupersiapkan diri menyambut kehadiranmu.
belajar menjadi yang terbaik…
setidaknya menjadi yang terbaik disisimu kelak…
Rindu demi rindu menyatu dalam relung hatiku
Entah dimana dirimu sekarang, tapi aku yakin Allah selalu mencintaimu sebagaimana Dia mencintaiku….
Kawan hidupku,,,
Apa yang kuharapkan darimu adalah kesalihan
Dan semoga engkau pun demikian,,,
Aku tahu…."Dinikahi seorang wanita karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah agamannya, maka beruntunglah kedua tanganmu".
Itulah sebuah pijakan utama buatmu memilih calon isteri..
Kawan hidupku,,,
Jika harta yang engkau idamkan,.
maka ketahuilah diriku bukanlah orang yang berada.
Tiada harta yang dapat kupersembahkan dalam ijab-kabul kita nanti.
Jika keturunan yang engkau dambakan,
ketahuilah bahwa aku hanyalah manusia biasa dari keluarga yang biasa pula.
Kecantikan??
Ya… aku pun meyakini bahwa engkau juga tidak terlepas seperti manusia yang lainnya.
Ketahuilah wahai Kawan hidupku,,,,
Jika kecantikan yang engkau inginkan dariku,
maka engkau telah salah langkah
karena telah aku hijabkan kecantikan diriku ini
dengan agama yang aku yakini ini.
Kawan hidupku,,,
Kelak….
Bimbinglah aku tuk jadi pendamping yang solehah,
agar aku termasuk salah satu bidadari surgamu.
Tapi maafkan aku…..
Aku ini pencemburu berat….
Namun jika Allah dan Rasul lebih kau cintai daripada aku, aku rela..
Kawan hidupku,,,
Bunga akan indah pada waktunya.
Maka kini tengah kupersiapkan diri menyambut kehadiranmu.
belajar menjadi yang terbaik…
setidaknya menjadi yang terbaik disisimu kelak…
Salah Nalar dalam Bahasa Indonesia
Oleh :
Nur Endah A.
Mahasiswa Pendidikan Bahasa&Sastra Indonesia
FKIP UNS
Salah nalar pemakaian kalimat dalam Bahasa Indonesia hingga saat ini masih sering terjadi. Kesalahan ini sering penulis temukan dalam kata pengantar, baik makalah maupun karya ilmiah lainnya seperti Skipsi, Thesis, atau Disertasi. Sebagai contohnya, penulis sering menemukan kalimat (1) Puji syukur penulis panjatkan kehadirant Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, maka skripsi ini dapat terselesaikan. (2) Walaupun disadari dalam skripsi ini masih ada kekurangan, namun diharapkan dalam skripsi ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan fragmatika.
Kesalahan pada kalimat (1) terletak pada penggunaan konjungsi maka yang menunjukkan sebab-akibat. ktur Sesuai logika, manusia bersyukur karena mendapatkan nikmat, termasuk dapat menyelesaikan skripsi. Namun, struktur kalimat yang ditandai dengan konjungsi maka, berarti yang menjadi sebab adalah puji syukur penulis dan akibatnya adalah terselesainya skripsi. Kalimat (1) seharusnya diperbaiki menjadi Puji syukur penulis panjatkan kehadirant Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, skripsi ini dapat terselesaikan.
Sementara itu, kesalahan pada kalimat (2), jika penulis menyadari masih ada kekurangan, seharusnya penulis berusaha membereskan terlebih dahulu baru disusun menjadi skripsi, jangan menunjukkan kekurangan tersebut. Mungkin kekurangan yang dimaksud penulis skripsi dalam hal ini adalah kekurangan manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya yang tak sempurna. Namun, alangkah baiknya jika kalimat (2) diperbaiki menjadi Penulis sudah berusaha semaksimal mungkin, namun manusia tidak pernah lepas dari kekurangan. Jika pembaca menemukan kesalahan pada skripsi ini, penulis menerima saran dan kritik secara terbuka.......dan seterusnya.
Kesalahan lain yang sering penulis jumpai yaitu kesalahan nalar pada saat moderator memimpin suatu acara atau seminar. Sering kali kita mendengar kalimat ”Untuk menyingkat waktu, sebaiknya acara segera dimulai”. Waktu tidak dapat diperpanjang atau diperpendek, tetapi harus dimanfaatkan salah satunya dengan menghemat waktu. Dengan demikian, kalimat tersebut sebaiknya diperbaiki menjadi “Untuk menghemat waktu, sebaiknya acara segera dimulai”.
Oleh :
Nur Endah A.
Mahasiswa Pendidikan Bahasa&Sastra Indonesia
FKIP UNS
Salah nalar pemakaian kalimat dalam Bahasa Indonesia hingga saat ini masih sering terjadi. Kesalahan ini sering penulis temukan dalam kata pengantar, baik makalah maupun karya ilmiah lainnya seperti Skipsi, Thesis, atau Disertasi. Sebagai contohnya, penulis sering menemukan kalimat (1) Puji syukur penulis panjatkan kehadirant Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, maka skripsi ini dapat terselesaikan. (2) Walaupun disadari dalam skripsi ini masih ada kekurangan, namun diharapkan dalam skripsi ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan fragmatika.
Kesalahan pada kalimat (1) terletak pada penggunaan konjungsi maka yang menunjukkan sebab-akibat. ktur Sesuai logika, manusia bersyukur karena mendapatkan nikmat, termasuk dapat menyelesaikan skripsi. Namun, struktur kalimat yang ditandai dengan konjungsi maka, berarti yang menjadi sebab adalah puji syukur penulis dan akibatnya adalah terselesainya skripsi. Kalimat (1) seharusnya diperbaiki menjadi Puji syukur penulis panjatkan kehadirant Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, skripsi ini dapat terselesaikan.
Sementara itu, kesalahan pada kalimat (2), jika penulis menyadari masih ada kekurangan, seharusnya penulis berusaha membereskan terlebih dahulu baru disusun menjadi skripsi, jangan menunjukkan kekurangan tersebut. Mungkin kekurangan yang dimaksud penulis skripsi dalam hal ini adalah kekurangan manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya yang tak sempurna. Namun, alangkah baiknya jika kalimat (2) diperbaiki menjadi Penulis sudah berusaha semaksimal mungkin, namun manusia tidak pernah lepas dari kekurangan. Jika pembaca menemukan kesalahan pada skripsi ini, penulis menerima saran dan kritik secara terbuka.......dan seterusnya.
Kesalahan lain yang sering penulis jumpai yaitu kesalahan nalar pada saat moderator memimpin suatu acara atau seminar. Sering kali kita mendengar kalimat ”Untuk menyingkat waktu, sebaiknya acara segera dimulai”. Waktu tidak dapat diperpanjang atau diperpendek, tetapi harus dimanfaatkan salah satunya dengan menghemat waktu. Dengan demikian, kalimat tersebut sebaiknya diperbaiki menjadi “Untuk menghemat waktu, sebaiknya acara segera dimulai”.
RESENSI BUKU
Tuhan Senantiasa Beserta Kita
Judul Buku :You Are Not Alone: 30 Renungan tentang Tuhan dan Kebahagiaan
Penulis : Arvan Pradiansyah
Penerbit : Elex Media, 2010
Halaman : 252 hal., soft cover
ISBN : 978-979-27-7918-9
Kategori : Spiritualitas; Inspirasional; Pengembangan Diri
Harga : Rp.52.800,00
Arvan Pradiansyah adalah Managing Director di Institute for Leadership and Life Management (ILM), sebuah lembaga pelatihan dan konsultasi sumber daya manusia, kepemimpinan, dan life management berbasis di Jakarta, pembicara publik, kolumnis, konsultan, dan penulis beberapa buku best seller. Buku-buku yang berhasil ia terbitkan antara lain You Are A Leader (2003), Life is Beautiful (2004), Cherish Every Moment (2007), dan The 7 Laws of Happiness (2008). Buku You Are Not Alone merupakan karyanya yang kelima.
Buku ini merupakan renungan mengenai Tuhan dan kebahagiaan. Tuhan yang dimaksud dalam buku tersebut lebih bersifat sebagai Tuhan universal, tidak mengacu pada Tuhan di ajaran agama tertentu. Tujuannya agar renungan tersebut dapat dinikmati oleh pembaca dengan beragam latar belakang, bahkan (mungkin) yang mengaku ateis sekalipun. Jadi, buku ini berbicara mengenai spiritualitas, bukan religiusitas.
“Masyarakat kita dikenal sebagai masyarakat religius tapi sayangnya bukan masyarakat yang spiritual. Kita rajin pergi ke tempat ibadah tapi begitu ke luar dari sana kita menjadi orang yang berbeda 180 derajat. Kita percaya pada Tuhan tapi tidak beriman kepada Tuhan. Ketika beribadah kita menyembah Tuhan, tapi ketika berbisnis kita memasabodohkan Tuhan. Kita melakukan hal-hal tercela tanpa beban, seolah-olah Tuhan tidak melihat kita, bahkan menganggap Tuhan tidak pernah ada. Tuhan bukanlah sosok yang jauh. Dia sangat dekat dengan diri kita dan senantiasa memperhatikan kita. Dosa, kesalahan, dan perbuatan tercela sesungguhnya disebabkan manusia tidak percaya bahwa Tuhan itu senantiasa melihat dan bersamanya. Pemikiran inilah yang semakin meyakinkan saya betapa pernyataan "You Are Not Alone" sangat powerful.” Demikian yang ditulis Arvan Pradiansyah pada kata pengantar buku terbarunya itu.
Arvan berharap dengan adanya buku ini akan berdampak yang cukup signifikan bagi pengembangan karakter masyarakat, terutama di Indonesia. Tentu sungguh memprihatinkan bila kita membaca fakta betapa mayoritas penduduk di negeri religius ini justru memiliki kebiasaan korupsi yang mengerikan. Bahkan mungkin tidak ada satu pun lembaga penegak hukum yang bersih dari korupsi.
Oleh karena itu, dalam buku ini Arvan berusaha mengaitkan spiritualitas dengan pembentukan manusia agar menjadi lebih berkualitas. Dia menyatakan bahwa manusia diciptakan dengan misi masing-masing dari Tuhan. “Hidup adalah sebuah misi yang harus kita pertanggungjawabkan. Tuhan tidak menciptakan kita sekadar untuk memenuhi dunia. Tuhan pasti menciptakan kita dengan maksud tertentu. Ada misi Tuhan yang dititipkan kepada kita. Namun Dia hanya secara implisit menyatakan yang Dia inginkan dari kita masing-masing. Kitalah yang harus mencarinya dengan cara mengeksplorasi dan mengenali diri masing-masing. Karena itu, hal terpenting dalam hidup ini ialah menemukan apa yang terpenting dan menjalankannya”, begitu yang ia tulis.
Saya begitu banyak mendapatkan pencerahan lewat buku ini. Susunan judulnya mulai dari You Are Not Alone, Antara Engkau dan Dia, Seorang Alim di Surga, Aku Ada di Dekatmu, hingga yang paling akhir Salah Berdoa begitu runtut dan sistematis menurut saya. Setiap pokok bahasan selalu disajikan contoh konkret yang sesuai sehingga menambah kefahaman pembaca. Kata-kata yang digunakan pun sederhana, mudah dipahami semua khalayak, sarat makna, tanpa meninggalkan aspek etika dan estetika.
Layaknya manusia yang tak sempurna, buku ini pun masih memiliki beberapa kekurangan. Sebagian contoh yang digunakan Arvan sepertinya hanya imajinasinya saja meski saya akui banyak juga contoh-contoh yang faktual. Namun saya paham maksud Arvan adalah untuk memudahkan pembacanya lebih mengerti apa yang ingin ia sampaikan.
Ditinjau dari segi penulisan kata-kata, tampaknya juga masih ada beberapa yang tidak sesuai diksi maupun ejaannya. Ilustrasi gambar dalam setiap pokok bahasan juga banyak yang kurang sesuai meskipun ada beberapa ilustrasi yang masih bisa dipahami secara implisit.
Secara umum, buku ini sudah bisa dikatakan bagus dan layak untuk dikonsumsi semua khalayak. Buku ini cukup membuat saya jatuh cinta untuk sering-sering membacanya meskipun sudah berulang-ulang.
Ya, saya mendapatkan pencerahan, hikmah, pelajaran, pengetahuan, dan tentunya semakin sadar akan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa. Dimana, kapan, dan bagaimanapun keadaan kita janganlah lupa bahwa Tuhan selalu beserta kita. Cukup Dia-lah kekasih sejati kita, cukup Dia-lah sebaik-baik pelindung dan penolong kita. Jangan merasa sendiri, karena Tuhan tak akan pernah jauh dari kita, sejengkal pun tak akan. Justru Dia teramat setia menyertai kita dalam setiap pikiran, aktivitas, serta langkah-langkah kita. Oleh karena itu, libatkanlah Dia dalam situasi dan kondisi apapun yang kita alami entah sedih, senang, duka, dan segalanya.
Sekali lagi, buku ini cukup bagus, sungguh merupakan mahakarya yang luar biasa dari Arvan yang berhasil menghipnotis pembaca untuk selalu mengingat pada Yang Esa, bahwa Ia selalu menyertai hamba-Nya.
(Nur Endah A./ Pendidikan Bahasa& Sastra Indonesia/FKIP UNS)
Tuhan Senantiasa Beserta Kita
Judul Buku :You Are Not Alone: 30 Renungan tentang Tuhan dan Kebahagiaan
Penulis : Arvan Pradiansyah
Penerbit : Elex Media, 2010
Halaman : 252 hal., soft cover
ISBN : 978-979-27-7918-9
Kategori : Spiritualitas; Inspirasional; Pengembangan Diri
Harga : Rp.52.800,00
Arvan Pradiansyah adalah Managing Director di Institute for Leadership and Life Management (ILM), sebuah lembaga pelatihan dan konsultasi sumber daya manusia, kepemimpinan, dan life management berbasis di Jakarta, pembicara publik, kolumnis, konsultan, dan penulis beberapa buku best seller. Buku-buku yang berhasil ia terbitkan antara lain You Are A Leader (2003), Life is Beautiful (2004), Cherish Every Moment (2007), dan The 7 Laws of Happiness (2008). Buku You Are Not Alone merupakan karyanya yang kelima.
Buku ini merupakan renungan mengenai Tuhan dan kebahagiaan. Tuhan yang dimaksud dalam buku tersebut lebih bersifat sebagai Tuhan universal, tidak mengacu pada Tuhan di ajaran agama tertentu. Tujuannya agar renungan tersebut dapat dinikmati oleh pembaca dengan beragam latar belakang, bahkan (mungkin) yang mengaku ateis sekalipun. Jadi, buku ini berbicara mengenai spiritualitas, bukan religiusitas.
“Masyarakat kita dikenal sebagai masyarakat religius tapi sayangnya bukan masyarakat yang spiritual. Kita rajin pergi ke tempat ibadah tapi begitu ke luar dari sana kita menjadi orang yang berbeda 180 derajat. Kita percaya pada Tuhan tapi tidak beriman kepada Tuhan. Ketika beribadah kita menyembah Tuhan, tapi ketika berbisnis kita memasabodohkan Tuhan. Kita melakukan hal-hal tercela tanpa beban, seolah-olah Tuhan tidak melihat kita, bahkan menganggap Tuhan tidak pernah ada. Tuhan bukanlah sosok yang jauh. Dia sangat dekat dengan diri kita dan senantiasa memperhatikan kita. Dosa, kesalahan, dan perbuatan tercela sesungguhnya disebabkan manusia tidak percaya bahwa Tuhan itu senantiasa melihat dan bersamanya. Pemikiran inilah yang semakin meyakinkan saya betapa pernyataan "You Are Not Alone" sangat powerful.” Demikian yang ditulis Arvan Pradiansyah pada kata pengantar buku terbarunya itu.
Arvan berharap dengan adanya buku ini akan berdampak yang cukup signifikan bagi pengembangan karakter masyarakat, terutama di Indonesia. Tentu sungguh memprihatinkan bila kita membaca fakta betapa mayoritas penduduk di negeri religius ini justru memiliki kebiasaan korupsi yang mengerikan. Bahkan mungkin tidak ada satu pun lembaga penegak hukum yang bersih dari korupsi.
Oleh karena itu, dalam buku ini Arvan berusaha mengaitkan spiritualitas dengan pembentukan manusia agar menjadi lebih berkualitas. Dia menyatakan bahwa manusia diciptakan dengan misi masing-masing dari Tuhan. “Hidup adalah sebuah misi yang harus kita pertanggungjawabkan. Tuhan tidak menciptakan kita sekadar untuk memenuhi dunia. Tuhan pasti menciptakan kita dengan maksud tertentu. Ada misi Tuhan yang dititipkan kepada kita. Namun Dia hanya secara implisit menyatakan yang Dia inginkan dari kita masing-masing. Kitalah yang harus mencarinya dengan cara mengeksplorasi dan mengenali diri masing-masing. Karena itu, hal terpenting dalam hidup ini ialah menemukan apa yang terpenting dan menjalankannya”, begitu yang ia tulis.
Saya begitu banyak mendapatkan pencerahan lewat buku ini. Susunan judulnya mulai dari You Are Not Alone, Antara Engkau dan Dia, Seorang Alim di Surga, Aku Ada di Dekatmu, hingga yang paling akhir Salah Berdoa begitu runtut dan sistematis menurut saya. Setiap pokok bahasan selalu disajikan contoh konkret yang sesuai sehingga menambah kefahaman pembaca. Kata-kata yang digunakan pun sederhana, mudah dipahami semua khalayak, sarat makna, tanpa meninggalkan aspek etika dan estetika.
Layaknya manusia yang tak sempurna, buku ini pun masih memiliki beberapa kekurangan. Sebagian contoh yang digunakan Arvan sepertinya hanya imajinasinya saja meski saya akui banyak juga contoh-contoh yang faktual. Namun saya paham maksud Arvan adalah untuk memudahkan pembacanya lebih mengerti apa yang ingin ia sampaikan.
Ditinjau dari segi penulisan kata-kata, tampaknya juga masih ada beberapa yang tidak sesuai diksi maupun ejaannya. Ilustrasi gambar dalam setiap pokok bahasan juga banyak yang kurang sesuai meskipun ada beberapa ilustrasi yang masih bisa dipahami secara implisit.
Secara umum, buku ini sudah bisa dikatakan bagus dan layak untuk dikonsumsi semua khalayak. Buku ini cukup membuat saya jatuh cinta untuk sering-sering membacanya meskipun sudah berulang-ulang.
Ya, saya mendapatkan pencerahan, hikmah, pelajaran, pengetahuan, dan tentunya semakin sadar akan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa. Dimana, kapan, dan bagaimanapun keadaan kita janganlah lupa bahwa Tuhan selalu beserta kita. Cukup Dia-lah kekasih sejati kita, cukup Dia-lah sebaik-baik pelindung dan penolong kita. Jangan merasa sendiri, karena Tuhan tak akan pernah jauh dari kita, sejengkal pun tak akan. Justru Dia teramat setia menyertai kita dalam setiap pikiran, aktivitas, serta langkah-langkah kita. Oleh karena itu, libatkanlah Dia dalam situasi dan kondisi apapun yang kita alami entah sedih, senang, duka, dan segalanya.
Sekali lagi, buku ini cukup bagus, sungguh merupakan mahakarya yang luar biasa dari Arvan yang berhasil menghipnotis pembaca untuk selalu mengingat pada Yang Esa, bahwa Ia selalu menyertai hamba-Nya.
(Nur Endah A./ Pendidikan Bahasa& Sastra Indonesia/FKIP UNS)
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNS Adakan Pentas Penyutradaraan
“Produk utama yang diharapkan FKIP UNS adalah guru yang berkarakter kuat dan cerdas sesuai visi dan misinya. Melalui penyutradaraan, mahasiswa diharapkan menguasai kompetensi sebagai pendidik sesuai kualifikasi kurikulum yang diterapkan di lapangan”, ujar Budi Waluyo selaku dosen pengampu mata kuliah penyutradaraan.
Mahasiswa semester V Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNS mendapatkan mata kuliah Penyutradaraan dengan beban 2 SKS. Tujuan dengan adanya mata kuliah ini antara lain agar mahasiswa menguasai kompetensi yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku saat ini yaitu KTSP. “Fenomena yang ada sekarang banyak guru yang melewatkan pelajaran sastra. Padahal di kurikulum sekarang muatan sastranya lebih dari 50 persen yang terdiri dari prosa, pusi, dan salah satunya adalah drama. Mahasiswa diharapkan menguasai teori dan praktik drama sekaligus sebagai bekal saat menjadi guru agar dapat mengimplementasikan kurikulum dengan baik dan tidak canggung”, ungkap Budi Waluyo disela-sela waktu senggangnya kepada majalah DIDIK.
Lebih lanjut Budi menjelaskan bahwa pentas penyutradaraan diadakan sebagai salah satu tolok ukur mengetahui kemampuan mahasiswa tentang drama. “Kalau hanya sekadar teks saja itu baru separuh perjalanan, berdasarkan definisinya, drama adalah karya sastra yang diproyeksikan di atas pentas kepada penonton. Jadi ya harus di pentaskan dengan beberapa kriteria tentunya...”, jelasnya.
Foto saat mahasiswa memerankan adegan
Pentas penyutradaraan yang dilaksanakan pada tanggal 20 Januari 2011 bertempatkan di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) mulai pukul 08.00-18.00. Masing-masing judul yang dipentaskan yaitu“ Cinta Terlarang” karya Angga R.R dengan sutradara Galang Mahardika, “Bu Juragan!!!” karya M.V. Bayu dengan sutradara Ilham Ratih Anggraeny.S, “Orang Kasar” karya Anton Chekov dengan sutradara Nailu Ruhma, “Kapal Nuh” karya Hanindawan dengan sutradara Winda Ayu Cahya F., dan “Pada Suatu Hari” karya Arifin C. Noer dengan sutradara Prihanto Ndaru Mulya.
Pementasan dinilai oleh kedua dosen pembimbing yaitu Prof. Dr. H.J.Waluyo dan Budi Waluyo, M.Pd. dengan beberapa kriteria yaitu dilihat dari segi artistik, keaktoran, musik, kostum, penyajian, dan konsep penyutradaraan. Namun, yang paling penting adalah pertunjukan secara utuh. “Pertunjukan secara utuh dalam satu kesatuan yang meliputi ketepatan penyajian seperti musik, artistik, dan sebagainya itu yang paling penting”, tambah Budi. Selain itu, diputuskan pula aktris, aktor, dan pementasan terbaik.
Foto bersama saat satu pementasan usai
Meskipun dalam pelaksanaannya menuai banyak kendala baik secara teknis maupun nonteknis, namun sejauh ini masih bisa diatasi dengan baik seperti yang diungkapkan oleh Budi Waluyo “Kendala ya tentu ada. Tidak semua mahasiswa senang dengan drama apalagi harus belajar acting, latihan sampai malem, pengorbanan biaya, dan sebagainya. Tapi toh selama ini kita tetap bisa pentas dengan baik…”tegasnya.
Melalui penyutradaraan, mahasiswa diharapkan dapat mengajarkan sastra dengan baik jika kelak menjadi guru Bahasa Indonesia di sekolah. “Saya berharap kelak jika sudah menjadi guru, mahasiswa mampu mendidik, mengajar, dan menyampaikan sastra. Menurut saya, drama itu sangat efektif untuk membentuk karakter siswa, melatih kepekaan sosial, membentuk budi pekerti yang baik, dan memupuk rasa solidaritas siswa”, pungkasnya.
Endah_Aida
“Produk utama yang diharapkan FKIP UNS adalah guru yang berkarakter kuat dan cerdas sesuai visi dan misinya. Melalui penyutradaraan, mahasiswa diharapkan menguasai kompetensi sebagai pendidik sesuai kualifikasi kurikulum yang diterapkan di lapangan”, ujar Budi Waluyo selaku dosen pengampu mata kuliah penyutradaraan.
Mahasiswa semester V Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNS mendapatkan mata kuliah Penyutradaraan dengan beban 2 SKS. Tujuan dengan adanya mata kuliah ini antara lain agar mahasiswa menguasai kompetensi yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku saat ini yaitu KTSP. “Fenomena yang ada sekarang banyak guru yang melewatkan pelajaran sastra. Padahal di kurikulum sekarang muatan sastranya lebih dari 50 persen yang terdiri dari prosa, pusi, dan salah satunya adalah drama. Mahasiswa diharapkan menguasai teori dan praktik drama sekaligus sebagai bekal saat menjadi guru agar dapat mengimplementasikan kurikulum dengan baik dan tidak canggung”, ungkap Budi Waluyo disela-sela waktu senggangnya kepada majalah DIDIK.
Lebih lanjut Budi menjelaskan bahwa pentas penyutradaraan diadakan sebagai salah satu tolok ukur mengetahui kemampuan mahasiswa tentang drama. “Kalau hanya sekadar teks saja itu baru separuh perjalanan, berdasarkan definisinya, drama adalah karya sastra yang diproyeksikan di atas pentas kepada penonton. Jadi ya harus di pentaskan dengan beberapa kriteria tentunya...”, jelasnya.
Foto saat mahasiswa memerankan adegan
Pentas penyutradaraan yang dilaksanakan pada tanggal 20 Januari 2011 bertempatkan di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) mulai pukul 08.00-18.00. Masing-masing judul yang dipentaskan yaitu“ Cinta Terlarang” karya Angga R.R dengan sutradara Galang Mahardika, “Bu Juragan!!!” karya M.V. Bayu dengan sutradara Ilham Ratih Anggraeny.S, “Orang Kasar” karya Anton Chekov dengan sutradara Nailu Ruhma, “Kapal Nuh” karya Hanindawan dengan sutradara Winda Ayu Cahya F., dan “Pada Suatu Hari” karya Arifin C. Noer dengan sutradara Prihanto Ndaru Mulya.
Pementasan dinilai oleh kedua dosen pembimbing yaitu Prof. Dr. H.J.Waluyo dan Budi Waluyo, M.Pd. dengan beberapa kriteria yaitu dilihat dari segi artistik, keaktoran, musik, kostum, penyajian, dan konsep penyutradaraan. Namun, yang paling penting adalah pertunjukan secara utuh. “Pertunjukan secara utuh dalam satu kesatuan yang meliputi ketepatan penyajian seperti musik, artistik, dan sebagainya itu yang paling penting”, tambah Budi. Selain itu, diputuskan pula aktris, aktor, dan pementasan terbaik.
Foto bersama saat satu pementasan usai
Meskipun dalam pelaksanaannya menuai banyak kendala baik secara teknis maupun nonteknis, namun sejauh ini masih bisa diatasi dengan baik seperti yang diungkapkan oleh Budi Waluyo “Kendala ya tentu ada. Tidak semua mahasiswa senang dengan drama apalagi harus belajar acting, latihan sampai malem, pengorbanan biaya, dan sebagainya. Tapi toh selama ini kita tetap bisa pentas dengan baik…”tegasnya.
Melalui penyutradaraan, mahasiswa diharapkan dapat mengajarkan sastra dengan baik jika kelak menjadi guru Bahasa Indonesia di sekolah. “Saya berharap kelak jika sudah menjadi guru, mahasiswa mampu mendidik, mengajar, dan menyampaikan sastra. Menurut saya, drama itu sangat efektif untuk membentuk karakter siswa, melatih kepekaan sosial, membentuk budi pekerti yang baik, dan memupuk rasa solidaritas siswa”, pungkasnya.
Endah_Aida
Kamis, 30 Desember 2010
PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENELITIAN
PENGUASAAN KALIMAT EFEKTIF
Oleh :
Nur Endah Ariningsih
K1208034
A. Kajian Teori
1. Pengertian Kalimat Efektif
Menurut Harimurti Kridalaksana dalam kamus linguistik (2008 : 103) yang dimaksud kalimat adalah konstruksi gramatikal yang terdiri atas satu atau lebih klausa yang ditata menurut pola tertentu dan dapat berdiri sendiri sebagai satu satuan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003) disebutkan bahawa kalimat adalah kesatuan ujaran yang mengungkapkan konsep pikiran dan perasaan.
Sementara itu, dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indosesia dijelaskan bahwa kalimat merupakan satuan bahasa terkecil dalam wujud lisan dan tulisan yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Lisan berarti dapat diucapkan dengan suara naik turun, disela jeda, diakhiri intonasi akhir dan diikuti oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan atau asimilasi bunyi serta proses fonoligis lainnya. Dalam wujud lisan, kalimat diawali dengan huruf capital dan diakhiri dengan tanda titik. (.), tanda tanya (?) dan tanda seru (!) dan berbagai jenis tanda baca lainnya. Nina Widyaningsih dalam makalahnya Kalimat dalam Bahasa Indonesia, 2009 menambahkan bahwa sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis, harus memiliki subjek (S) dan predikat (P). kalau tidak memiliki unsur subjek dan unsur predikat, pernyataan itubukanlah kalimat. (http://komunitasmahasiswa.com).
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kalimat adalah suatu bagian ujaran yang minimal terdiri atas Subyek dan Predikat yang disusun sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku yang dapat mengungkapkan gagasan atau pikiran secara utuh.
Kata efektif dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai “berhasil guna”. Kaitannya dalam komunikasi, kalimat efektif diartikan sebagai kalimat yang secara tepat mewakili pikiran pembicara atau penulisnya atau mengungkapkan pemahaman yang sama tepatnya antara pikiran pendengar atau pembaca dengan pikiran pembaca atau penulisnya.
Sebelumnya pernah diteliti tmengenai “Kalimat Efektif: Struktur, Tenaga, dan Variasi” yang ditulis oleh Epraim (dalam she2008) menyimpulkan bahwa struktur kalimat yang benar merupakan dasar kalimat efektif, tenaga kalimat ialah kemampuan kalimat untuk menimbulkan pengertian-pengertian yang terkandung dalam kalimat sesuai dengan yang diinginkan penulis. Setelah memiliki struktur dan tenaga masih dibutuhkan adanya variasi. Putrayasa (2007 : 2) juga mengungkapkan pernyataan tentang kalimat efektif yaitu suatu kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan, informasi, dan perasaan dengan tepat ditinjau dari segi diksi, struktur, dan logikanya.( http://she2008.wordpress.com)
2. Ciri-ciri Kalimat Efektif
Kalimat efektif memiliki cirri-ciri sebagai berikut :
a. Kesatuan Gagasan
Kalimat efektif harus memperlihatkan kesatuan gagasan. Unsure-unsur dalam kalimat itu saling mendukung sehingga membentuk kesatuan ide yang padu. Kesatuan gagasan dalam kalimat dapat terganggu karena :
1) Subjek/ Predikatnya tidak jelas.
Missal :
Berhubung itu mengemukakannya juga minat baca kaum temaja makin menurun (tidak efektif).
Sehubungan dengan itu, ia juga mengemukakan bahwa minat baca kaum remaja makin menurun (efektif).
2) Fungsi keterangan yang salah letak
Missal :
Tahun ini SPP siswa baru saja dinaikkan (tidak efektif)
SPP siswa tahun ini baru saja dinaikkan atau Tahun ini, SPP siswa-baru saja dinaikkan (efektif)
3) adanya gagasan yang bertumpuk-tumpuk
Missal :
Kita semua mengemban amanat penderitaan rakyat harus sellu mengupayakan kesejahteraan bangsa kita (tidak efektif)
Selaku pengemban amanat penderitaan rakyat, kita harus selalu mengupayakan kesejahteraan.(efektif).
b. Kepaduan
Yang dimaksud dengan kepaduan adalah hubungan timbale balik yang jelas antara unsure-unsur pembentuk kalimat itu. Cara membuat kepaduan yaitu dengan menggunakan kata ganti, kata depan, dan kata penghubung yang tepat dalam kalimat.
c. Kelogisan
Yang dimaksud kelogisan adalah bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku. Perhatikan contoh di bawah ini.
Untuk mempersingkat waktu, kami teruskan acara ini.(salah)
Untuk menghemat waktu, kami teruskan acara ini.(benar)
d. Kehematan
Menurut Akhadiah, dkk. (dalam she08), kehematan dalam kalimat efektif ialah kehematan dalam pemakaian kata, frase atau bentuk lainnya dianggap tidak diperlukan. Kehematan itu menyangkut soal gramatikal dan makna kata. Kehematan tidak berarti bahwa kata yang diperlukan atau yang manambah kejelasan makna kalimat boleh dihilangkan. Unsur-unsur penghematan apa saja yang harus diperhatikan:
1). Pengulangan Subjek Kalimat
Penulisan kadang-kadang tanpa sadar sering mengulang subjek dalam satu kalimat. Pengulangan ini tidak membuat kalimat itu menjadi lebih jelas.
Contoh:
Mahasiswa mengambil keputusan tidak jadi melakukan studi tur karena mereka tahu masa ujian telah dekat.(salah)
Mahasiswa mengambil keputusan tidak jadi melakukan studi tur karena masa ujian telah dekat.(benar)
2) Hiponimi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI:2003) hiponim adalah hubungan antara makna spesifik dan makna generik atau antaranggota taksonomi.
Contoh:
Rumah penduduk di Medan terang benderang oleh cahaya lampu neon. (salah)
Rumah penduduk di Medan terang benderang oleh cahaya neon. (benar)
3). Pemakaian Kata Depan ”dari” dan ”daripada”
Dalam bahasa Indonesia kita mengenal kata depan dari dan daripada, selain ke dan di. Penggunaan dari dalam bahasa Indonesia dipakai untuk menunjukkan arah (tempat), atau asal-usul.
Contoh :
Bu Ros berangkat dari Bandung pukul 06.30WIB.
Kata dari tidak dipakai untuk menyatakan milik atau kepunyaan.
Dalam bahasa Indonesia kata depan daripada berfungsi untuk membandingkan sesuatu benda atau hal dengan benda atau lainnya.
Contoh:
Sifat Muhammad Yamin lebih sukar dipahami daripada sifat Miswanto.
e. Penekanan
Yang dimaksud dengan ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan..
Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat.
1). Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat).
Contoh:
Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya.
Penekanannya ialah presiden mengharapkan.
Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya.
Penekanannya Harapan presiden.
Jadi, penekanan kalimat dapat dilakukan dengan mengubah posisi kalimat.
2). Membuat urutan kata yang bertahap
Contoh:
Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
Seharusnya:
Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
3. Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contoh:
Saya suka kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.
4. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur.
5. Mempergunakan partikel penekanan (penegasan).
Contoh:
Saudaralah yang bertanggung jawab.
f. Penggunaan Ejaan
Kalimat efektif ditandai pula dengan penggunaan ejaan secara tepat, baik itu dalam hal penggunaan tanda baca, penulisan huruf, maupun dalam penulisan kata.
Contoh :
Seorang mahasiswa seumpama pendai gunung, sedang mendaki gunung cita-cita. (tidak efektif)
Seorang mahasiswa, seumpama pendai gunung, sedang mendaki gunung cita-cita.( efektif).
g. Keparalelan
Yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, kalau bentuk pertama menggunakan nomina. Kalau bentuk pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba.
Contoh:
Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes.
Kalimat tersebut tidak mempunyai kesejajaran karena dua bentuk kata yang mewakili predikat terdiri dari bentuk yang berbeda, yaitu dibekukan dan kenaikan. Kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara menyejajarkan kedua bentuk itu.
Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara luwes.
h. Kecermatan
Cermat ialah kalimat yang dihasilkan tidak menimbulkan tafsir ganda dan harus tepat diksinya. Prinsip kecermatan berart icermat dan tepat menggunakan diksi. Agar tercapai kecermatan dan ketepatan diksi, harus memperhatikan pernyataan-pernyataan berikut ini.
•Hindari penanggalan awalan
•Hindari peluluhan bunyi/ c /
•Hindari bunyi / s /, / p /, / t /, dan/ k / yang tidak luluh
•Hindari pemakaian kata ambigu
i. Kevariasian
Yakni menyusun kalimat dengan variasi tertentu agar tidak monoton atau membosankan. Variasi dimungkinkan oleh hal-hal berikut ini.
1). Variasi dalam pembukaan kalimat yang bisa dibentuk via frase keterangan (cara, waktu, tempat), frase benda, frase kerja, dan partikel penghubung.
Contoh :
Dilemparnya jauh-jauh perasaan cintanya kepada Sharon Stone, setelah mendengar kabar buruk tentangnya.
Pak Agus selalu memasang muka masam, karena melihat murid-muridnya yang malas-malasan.
2) Variasi dalam pola kalimat. Hal ini dapat dibentuk dengan cara mengubah pola kalimat S-P-O misalnya menjadi O-P-S, atau sebaliknya.
3)Variasi dalam jenis kalimat. Variasi ini debentuk dengan mengubah kalimat berita, misalnya menjadi kalimat Tanya atau kalimat perintah.
3. Sebab-sebab kalimat tidak efektif
Berikut ini 8 Sebab Ketidakefektifan Kalimat :
1. Kontaminasi ( merancukan 2 struktur benar 1 struktur salah)
Contoh :
diperlebar, dilebarkan diperlebarkan (salah)
memperkuat, menguatkan memperkuatkan (salah)
sangat baik, baik sekali sangat baik sekali (salah)
2. Pleonasme : pemakaian kata yang mubazir (berlebihan), yang sebenarnya tidak perlu
Contoh :
para hadirin (hadirin sudah jamak, tidak perlu para)* para bapak-bapak (bapak-bapak sudah jamak)
banyak siswa-siswa (banyak siswa)
saling pukul-memukul (pukul-memukul sudah bermakna ‘saling’)
agar supaya (agar bersinonim dengan supaya)
disebabkan karena (sebab bersinonim dengan karena)
3. Tidak Memiliki Subjek
Contoh :
Buah mangga mengandung vitamin C.(SPO) (benar)
Di dalam buah mangga terkandung vitamin C. (KPS) (benar)
Di dalam buah mangga mengandung vitamin C. (KPO) (salah)
4. Adanya kata depan tidak perlu
Contoh :
Perkembangan daripada teknologi informasi sangat pesat.
Kepada siswa kelas I berkumpul di aula.
5. Salah Nalar
Contoh :
waktu dan tempat dipersilahkan. (Siapa yang dipersilahkan)
Silakan maju ke depan. (maju selalu ke depan)
6. Kesalahan Pembentukan kata
Contoh :
mengenyampingkan seharusnya mengesampingkan
mensoal seharusnya menyoal
ilmiawan seharusnya ilmuwan
7. Pengaruh bahasa asing
Contoh :
Saya telah katakan … (I have told) (Ingat: pasif persona) (seharusnya telah saya katakan)
8. Pengaruh bahasa daerah
Contoh :
… sudah pada hadir. (Jawa: wis padha teka) (seharusnya sudah hadir)
Jangan-jangan … (Jawa: ojo-ojo) (seharusnya mungkin)
B. Sintesis Teori Kalimat Efektif
Berangkat dari beberapa konsep yang dipaparkan pada kajian teoretik, dapatlah disintesiskan bahwa pada hakikatnya yang dimaksud dengan penguasaan kalimat efektif – dalam penelitian ini -- adalah kemampuan siswa dalam memahami suatu kalimat yang dapat mewakili secara tepat isi pikiran maupun perasaan yang disampaikan penulis/pembicara dengan yang diterima pembaca/ pendengar sesuai cirri-ciri pembentukannya.
C. Definisi Konseptual Kalimat Efektif
Penguasaan kalimat efektif adalah kemampuan siswa dalam memahami suatu kalimat yang dapat mewakili secara tepat isi pikiran maupun perasaan yang disampaikan penulis/pembicara dengan yang diterima pembaca/ pendengar sesuai cirri-cirinya pembentukannya.
D. Definisi Operasional Kalimat Efektif
Penguasaan kalimat efektif adalah kemampuan siswa dalam memahami suatu kalimat yang dapat mewakili secara tepat isi pikiran maupun perasaan yang disampaikan penulis/pembicara dengan yang diterima pembaca/ pendengar sesuai cirri-cirinya pembentukannya, yang diindikatori dengan pengetahuan dan pemahamannya melalui : 1) Pengetahuan tentang hakikat kalimat efektif, 2) pengetahuan mengenai cirri-ciri kalimat efektif, 3) pengetahuan mengenai sebab-sebab ketidak efektifan kalimat, 4)kemampuan dalam memahami contoh kalimat efektif, dan 5) kemampuan mengubah kalimat tidak efektif menjadi kalimat efektif.
E. Dimensi dan Indikator dalam Mengukur Penguasaan Kalimat Efektif
Sesuai dengan definisi operasional yang telah dinyatakan di atas, dimensi kemampuan penalaran dalam penelitian ini mencakup lima hal, yaitu 1) Pengetahuan tentang hakikat kalimat efektif, 2) pengetahuan mengenai cirri-ciri kalimat efektif, 3) pengetahuan mengenai sebab-sebab ketidak efektifan kalimat, 4)kemampuan dalam menemukan contoh kalimat efektif, dan 5) kemampuan mengubah kalimat tidak efektif menjadi kalimat efektif.
F. Kisi-kisi atau Tebel Spesifikasi Instrumen Tes Penguasaan Kalimat Efektif (Sebelum diuji cobakan)
Variabel Indikator Nomor
Soal Jumlah
Penguasaan kalimat efektif Kemampuan memahami hakikat kalimat efektif 1, 3, 5, 17, 26, 28, 6
Kemampuan menyebutkan ciri-ciri kalimat efektif 11, 15, 18, 19, 22, 29 6
Kemampuan memahami penyebab kalimat menjadi tidak efektif 9, 13, 14, 23, 27, 30 6
Kemampuan dalam menemukan contoh kalimat yang efektif 2, 6, 8, 12, 16, 20 6
Kemampuan mengubah kalimat tidak efektif menjadi kalimat yang efektif 4, 7, 10, 21, 24, 25 6
Jumlah Total 30
G. Penjabaran Butir-butir Soal Tes Penguasaan Kalimat Efektif
1. Petunjuk Umum Mengerjakan Tes
1. Tes ini bertujuan untuk mengetahui seberapa baik penguasaan kalimat efektif Anda dalam berbahasa Indonesia.
2. Jumlah butir soal tes ini ada 40. Anda dianjurkan untuk mengerjakan semua butir soal.
3. Tulis jawaban Anda pada lembar jawab yang telah disediakan dan jangan membuat corat-coret pada lembar soal!
4. Jika Anda selesai mengerjakan, serahkan lembar jawab soal dan lembar jawaban pada pengawas.
5. Setiap butir soal yang Anda jawab dengan benar akan diberi nilai atau skor 1 sehingga skor tertinggi ada 40
6. Waktu yang disediakan bagi Anda untuk mengerjakan tes ini ada 90 menit.
Selamat mengerjakan !
Jawablah soal di bawah ini dengan memberi tanda silang (X) pada huruf A, B, C, atau D sesuai dengan pilihan yang menurut Anda paling tepat!
1. Pembangunan pertanian tidak hanya membatasi pada pengembangan tanaman tradisional. Kalimat di atas dianggap tidak efektif karena adanya penggunaan kata yang salah. Kata yang salah itu adalah…
A. Pembangunan
B. Tidak
C. Membatasi
D. Tanaman
E. Trasisional
2. Kalimat-kalimat di bawah ini TIDAK efektif, KECUALI
A. Pada hari ini merupakan hari yang bersejarah bagiku.
B. Dalam rapat itu sudah menetapkan susunan politis seminar.
C. Kepada para mahasiswa diharapkan berkumpul di aula.
D. Kepada para peserta diumumkan bahwa perlombaan akan dimulai
E. Ia memperoleh banyak keuntungan dari berdagang kain kiloan
3. Kepala dari rumah sakit itu telah dipecat dari jabatannya. Kalimat tersebut dapat dijadikan kalimat efektif dengan cara…..
A. Menghilangkan kata “dari jabatannya”
B. Menghilangkan kata “dari pada”
C. Di belakang kata “itu”diberi tanda koma
D. Menghilangkan kata “pada”
E. Kata “telah”diganti “sudah”
4. Dengan perubahan zaman telah menuntut para pendidik untuk mencari metode mengajar yang baru.
Kalimat tersebut dapat dijadikan kalimat efektif dengan cara
A. Mengubah menuntut menjadi dituntut
B. Meletakkan para pendidik pada awal kalimat
C. Menghilangkan kata dengan
D. Menghilangkan kata telah
E. Meletakkan dengan perubahan zaman pada akhir kalimat
5. Pemakaian kata depan dari pada yang efektif terdapat dalam kalimat :
A. Harga baju di pasar lebih murah dari pada di toko
B. Dari pada duduk sendiri, lebih baik belajar
C. Lebih baik berhati-hati dari pada menanggung resiko
D. Siasat dari pada mereka sudah diketahui lawan politiknya
E. Dari padanya aku menemukan cinta sejati
6. Ditinjau dari susunannya kalimat yang betul adalah
A. Ibu sudah menyiapkan makan pagi.
B. Kami akan sampaikan permintaan maaf kepadanya.
C. Sudah saya sampaikan pesanmu kepada Pak Wahidin.
D. Kamu harus pikirkian masalah ini baik-baik.
E. Kepadanya saya sampaikan pesanmu.
7. Dalam rapat itu membicarakan masalah yang berhubungan dengan kesejahteraan anggota. Kalimat itu dapat dijadiakn kalimat efektif dengan
A. Meletakkan klausa masalah yang berhubungan dengan kesejahteraan anggota pada awal kalimat
B. Mengubah bentuk membicarakan menjadi dibicarakan
C. Menghilangkan kata yang
D. Menghilangkan kata anggota
E. Meletakkan dalam rapat itu pada akhir kalimat
8. Kalimat efektif terdapat dalam pernyataan
A. Kepada yang merasa belum kelas silakan untuk bertanya.
B. Hadirin dilarang merokok.
C. Selain daripada itu, Saudara harus memenuhi syarat-syarat lainnya.
D. Izin diberikan kepada yang telah memenuhi syarat.
E. Isi daripada surat ini adalah pemberitahuan kepada orang tua wali untuk segera melinasi SPP.
9. Jalan raya itu akan segera diperlebarkan. Kalimat tersebut tidak efektif karena
A. Mengandung bentuk kontaminasi imbuhan
B. Menagndung penulisan kata mejemuk yang tidak sesuai dengan EYD
C. Kata-kata dalam frse verbal tersusun terbalik
D. Mengandung pemakaian awalan di- yang menunjukkan situasi
E. Menggunakan kata adalah
10. Saya akan ceritakan semua pengalaman kami.
Kalimat di atas tidak baik susunannya . kalimat yang baik susunanya adalah
A. Semua pengalaman kami, saya akan ceritakan
B. Akan saya ceritakan semua pengalaman kami
C. Pengalaman kami semua saya akan ceritakan
D. Semua akan pengalaman kami saya ceritakan
E. Pengalaman saya akan kami ceritakan
11. Sekretaris itu mengecek daftar nama-nama karyawan. Kalimat tersebut tidak efektif karena tidak memenuhi salah satu syarat kalimat efektif, yaitu..
A. Kepaduan gagasan
B. Kesepadanan struktur
C. Kehematan kata
D. Keparalelan bentuk
E. Kelogisan bahasa
12. Di antara kalimat bawah ini, yang berupa kalimat efektif adalah..
A. Mengenai bahasa nasional dewasa ini menghadapi bermacam permasalahan
B. Berdasarkan keterangan yang diperoleh menunjukkan bahwa pelaksanaan pembangunan gedung itu berjalan dengan baik
C. Dengan garis kebijaksanaan itu memungkinkan pembangunan nasional berhasil
D. Seorang yang menguasai persoalan akan dapat mengemukakan persoalan dengan baik
E. Menurut pendapat para ahli mereka berpendapat bahwa perencanaan bahasa sedang mengalami kendala
13. Bunga-bunga mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya.
Kalimat di atas tidak efektif karena…
A. Tidak sepadan
B. Tidak tegas makananya
C. Tidak hemat
D. Tidak padu
E. Tidak logis
14. Silakan maju ke depan. Kalimat tersebut tidak efektif karena....
A. Adanya kata depan yang tidak perlu
B. Akibat dari salah nalar
C. Adanya kontaminasi
D. Akibat pengaruh bahasa asing
E. Pemakaian kata yang mubadzir
15. Yang dimaksud kesatuan gagasan dalam kalimat efektif adalah…
A. Terdapat unsur S, P, O/ K yang saling mendukung
B. Memiliki kesamaan bentuk atau imbuhan
C. Tidak menggunakan kata-kata yang tidak perlu
D. Ada penekanan pada kata-kata yang penting
E. Mudah dipahami
16. Contoh kalimat yang efektif di bawah ini…
A. Semua peserta seminar diharap balik ke atas agar acara dapat dimulai.
B. Untuk menghemat waktu, acara kita lanjutkan.
C. Waktu dan tempat kami persilakan.
D. Kakak membelikan adik tas dan sepatu sekolah.
E. Kepada Yth. Bpk wali kota kami persilakan.
17. Kalimat yang tersusun baik adalah
A. Mereka yang belum membayar iuran segara dilunasi.
B. Mahasiswa yang meminjam buku itu supaya mengembalikannya.
C. Barang siapa menemukan barang itu supaya diserahkan kepada polisi.
D. Nasabah harus melunasi hutangnya pada waktunya.
E. Sepeda motor dilarang parker di sini!
18. Harga minyak dibekukan atau kenaaikan secara luwes
Contoh kalimat di atas tidak efektif karena tidak mengandung unsur…
A. Keparalelan bentuk
B. Kesepadanan struktur
C. Kehematan kata
D. Kepaduan gagasan
E. Kelogisan bahasa
19. Syarat-syarat kalimat efektif adalah
A. Harmonisasi
B. Hubungan social
C. Keserasian
D. Kebakuan
E. Kesatuan
20. Kalimat di bawah ini tidak efektif, kecuali
A. Kue ini terbuat daripada tepung terigu
B. Data dari penelitian ini dikumpulkan dengan angket
C. Pengamat ekonomi sedang berbicara tenatng fluktuasi nilai rupiah
D. DPR sedang membahas tentang kenaikan harga BBM
E. Lukisan ini merupakan salah satu bentuk karya seni
21. Karena ia tidak diundang dia tidak datang ke tempat itu. Kalimat ini dapat menjadi efektif jika dihilangkan salah satu katanya, yaitu..
A. Karena
B. Ia
C. Tidak
D. Diundang
E. Dia
22. Contoh kalimat di bawah ini yang tidak efektif karena tidak logis adalah…
A. Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu
B. Ia memakai baju warna merah
C. Mereka membicarakan kehendak rakyat
D. Makalah ini akan membahas desain interior
E. Waktu dan tempat kami persilakan
23. Yang termasuk penyebab kalimat menjadi tidak efektif, KECUALI
A. Kontaminasi
B. Tidak memiliki keterangan
C. Tidak memiliki subjek
D. Adanya kata depan tidak perlu
E. Salah nalar
24. Soal itu saya kurang jelas
( tidak efektif ). Kalimat tersebut dapat diubah menjadi kalimat efektif menjadi..
A. Kurang jelas saya soal itu
B. Itu soal kurang jelas saya
C. Itu soal kuarng jelas bagi saya
D. Soal itu bagi saya kurang jelas
E. Jelas kurang itu soal bagi saya
25. Saya akan ceritakan semua pengalaman kami.
Kalimat di atas tidak baik susunannya . kalimat yang baik susunanya adalah
A. Semua pengalaman kami, saya akan ceritakan
B. Akan saya ceritakan semua pengalaman kami
C. Pengalaman kami semua saya akan ceritakan
D. Semua akan pengalaman kami saya ceritakan
E. Pengalaman saya akan kami ceritakan
26. Saran yang dikemukakannya kami akan pertimbangkan. Kalimat tersebut tidak efektif karena terdapat keterbalikan penyususnan pada kata..
A. Saran dan yang
B. Dikemukakannya dan kami
C. Kami dan akan
D. Kemukakannya dan akan
E. Akan dan pertimbangkan
27. Rumah di mana ia tinggal adalah bentuk kalimat yang tidak efektif yang disebabkan oleh?
A. Pengaruh bahsa asing
B. Pengaruh bahasa daerah
C. Tidak bersubjek
D. Salah nalar
E. Kesalahan bentuk kalimat
28. Persoalan minat baca tidak terletak pada beberapa jam seseorang tahan membaca dalam sehari. Namun, menyempatkan diri untuk selalu menyentuh bacaan yang disukai sudah cukup mewakili semangat membaca. Bagi seseorang pembaca sejati, akan menjadikan bacaan sebagai referensi terhadap pemikiran dan tindakannya sehari-hari. Tutur kata dan tata bahasanya baik. Bacaan yang dapat menjadi inspirasi seseorang anak untuk terus menjadi besar dan mewujudkan cita-citanya itu.
Kalimat TIDAK efektif dalam paragraph tersebut terdapat dalam kalimat ke….
A. 1
B. 2
C. 3
D. 4
E. 5
29. Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat agar menjadi efektif, KECUALI..
A. Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat).
B. Membuat urutan kata yang bertahap
C. Menggunakan repetisi
D. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan
E. Paralelisme
30. Kedua pemuda itu saling pukul-memukul setelah bertengkar mulut masalah wanita. Kalimat tersebut tidak efektif karena...
A. Adanya penggunaan kata mubadzir
B. Adanya kontaminasi bahasa
C. Subjek kalimat belum jelas
D. Penggunaan kata depan yang salah
E. Ejaan yang kurang tepat
H. Rumus Uji Validitas Butir dan Reliabilitas Tes Penguasaan Kalimat Efektif
1. Validitas Butir Instrumen
Validitas menunjuk kepada sejauh mana suatu instrumen mampu mengukur rumus Korelasi apa yang seharusnya diukur (Muh Nasir, 1999: 281). Untuk menguji validitas instrumen kemampuan penalaran, digunakan Point Biserial (rpbi), sebagai berikut:
(Djaali, Pudji Mulyono, dan Ramly, 2000: 122)
Keterangan :
rpb (i) = koefisien korelasi point biserial.
= rerata skor jawaban yang benar butir ke-i
= rerata skor total
St = standar deviasi skor total
pi = proporsi jawaban benar untuk butir soal ke-i
qi = proporsi jawaban salah untuk butir soal ke-i
2. Uji Reliabilitas Instrumen
Reliabilitas mengacu kepada sejauh mana suatu alat pengukur secara ajeg (konsisten) mengukur apa saja yang diukurnya (Nasir, 1999:281). Untuk menghitung reliabilitas instrumen kemampuan penalaran, digunakan rumus KR-20 sbb:
(Djaali, Pudji Mulyono, dan Ramly, 2000: 145)
Keterangan :
rii = reliabilitas soal
k = jumlah soal yang valid
piqi = hasil perkalian jawaban benar dan salah
St2 = standar deviasi total
I. Daftar Pustaka
Abdul Aziz. 2009. Sebab Ketidakefektifan Kalimat. http://azizturn.wordpress.com//. (Diakses tanggal 2 November 2010).
Djaali dan Pudji Muljono. 2008. Pengukuran dalam Bidang Pendidikan. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
E. Kokasih. 2008. Ketatabahasaan dan Kesusastraan. Bandung : CV YRAMA WIDYA.
Harimurti Kridalaksana. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Hasan Alwi, dkk. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Hasan Alwi, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Nina Widyaningsih. Kalimat dalam bahasa Indonesia. http://komunitasmahasiswa.info/2009/02/ciri-ciri-kalimat-efektif. (Diakses tanggal 9 Desember 2010).
She2008. Kalimat efektif. http://she2008.wordpress.com. (Diakses tanggal 20 November 2010).
Wahyu Wibowo.2001. Manajemen Bahasa. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
PENGUASAAN KALIMAT EFEKTIF
Oleh :
Nur Endah Ariningsih
K1208034
A. Kajian Teori
1. Pengertian Kalimat Efektif
Menurut Harimurti Kridalaksana dalam kamus linguistik (2008 : 103) yang dimaksud kalimat adalah konstruksi gramatikal yang terdiri atas satu atau lebih klausa yang ditata menurut pola tertentu dan dapat berdiri sendiri sebagai satu satuan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003) disebutkan bahawa kalimat adalah kesatuan ujaran yang mengungkapkan konsep pikiran dan perasaan.
Sementara itu, dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indosesia dijelaskan bahwa kalimat merupakan satuan bahasa terkecil dalam wujud lisan dan tulisan yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Lisan berarti dapat diucapkan dengan suara naik turun, disela jeda, diakhiri intonasi akhir dan diikuti oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan atau asimilasi bunyi serta proses fonoligis lainnya. Dalam wujud lisan, kalimat diawali dengan huruf capital dan diakhiri dengan tanda titik. (.), tanda tanya (?) dan tanda seru (!) dan berbagai jenis tanda baca lainnya. Nina Widyaningsih dalam makalahnya Kalimat dalam Bahasa Indonesia, 2009 menambahkan bahwa sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis, harus memiliki subjek (S) dan predikat (P). kalau tidak memiliki unsur subjek dan unsur predikat, pernyataan itubukanlah kalimat. (http://komunitasmahasiswa.com).
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kalimat adalah suatu bagian ujaran yang minimal terdiri atas Subyek dan Predikat yang disusun sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku yang dapat mengungkapkan gagasan atau pikiran secara utuh.
Kata efektif dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai “berhasil guna”. Kaitannya dalam komunikasi, kalimat efektif diartikan sebagai kalimat yang secara tepat mewakili pikiran pembicara atau penulisnya atau mengungkapkan pemahaman yang sama tepatnya antara pikiran pendengar atau pembaca dengan pikiran pembaca atau penulisnya.
Sebelumnya pernah diteliti tmengenai “Kalimat Efektif: Struktur, Tenaga, dan Variasi” yang ditulis oleh Epraim (dalam she2008) menyimpulkan bahwa struktur kalimat yang benar merupakan dasar kalimat efektif, tenaga kalimat ialah kemampuan kalimat untuk menimbulkan pengertian-pengertian yang terkandung dalam kalimat sesuai dengan yang diinginkan penulis. Setelah memiliki struktur dan tenaga masih dibutuhkan adanya variasi. Putrayasa (2007 : 2) juga mengungkapkan pernyataan tentang kalimat efektif yaitu suatu kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan, informasi, dan perasaan dengan tepat ditinjau dari segi diksi, struktur, dan logikanya.( http://she2008.wordpress.com)
2. Ciri-ciri Kalimat Efektif
Kalimat efektif memiliki cirri-ciri sebagai berikut :
a. Kesatuan Gagasan
Kalimat efektif harus memperlihatkan kesatuan gagasan. Unsure-unsur dalam kalimat itu saling mendukung sehingga membentuk kesatuan ide yang padu. Kesatuan gagasan dalam kalimat dapat terganggu karena :
1) Subjek/ Predikatnya tidak jelas.
Missal :
Berhubung itu mengemukakannya juga minat baca kaum temaja makin menurun (tidak efektif).
Sehubungan dengan itu, ia juga mengemukakan bahwa minat baca kaum remaja makin menurun (efektif).
2) Fungsi keterangan yang salah letak
Missal :
Tahun ini SPP siswa baru saja dinaikkan (tidak efektif)
SPP siswa tahun ini baru saja dinaikkan atau Tahun ini, SPP siswa-baru saja dinaikkan (efektif)
3) adanya gagasan yang bertumpuk-tumpuk
Missal :
Kita semua mengemban amanat penderitaan rakyat harus sellu mengupayakan kesejahteraan bangsa kita (tidak efektif)
Selaku pengemban amanat penderitaan rakyat, kita harus selalu mengupayakan kesejahteraan.(efektif).
b. Kepaduan
Yang dimaksud dengan kepaduan adalah hubungan timbale balik yang jelas antara unsure-unsur pembentuk kalimat itu. Cara membuat kepaduan yaitu dengan menggunakan kata ganti, kata depan, dan kata penghubung yang tepat dalam kalimat.
c. Kelogisan
Yang dimaksud kelogisan adalah bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku. Perhatikan contoh di bawah ini.
Untuk mempersingkat waktu, kami teruskan acara ini.(salah)
Untuk menghemat waktu, kami teruskan acara ini.(benar)
d. Kehematan
Menurut Akhadiah, dkk. (dalam she08), kehematan dalam kalimat efektif ialah kehematan dalam pemakaian kata, frase atau bentuk lainnya dianggap tidak diperlukan. Kehematan itu menyangkut soal gramatikal dan makna kata. Kehematan tidak berarti bahwa kata yang diperlukan atau yang manambah kejelasan makna kalimat boleh dihilangkan. Unsur-unsur penghematan apa saja yang harus diperhatikan:
1). Pengulangan Subjek Kalimat
Penulisan kadang-kadang tanpa sadar sering mengulang subjek dalam satu kalimat. Pengulangan ini tidak membuat kalimat itu menjadi lebih jelas.
Contoh:
Mahasiswa mengambil keputusan tidak jadi melakukan studi tur karena mereka tahu masa ujian telah dekat.(salah)
Mahasiswa mengambil keputusan tidak jadi melakukan studi tur karena masa ujian telah dekat.(benar)
2) Hiponimi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI:2003) hiponim adalah hubungan antara makna spesifik dan makna generik atau antaranggota taksonomi.
Contoh:
Rumah penduduk di Medan terang benderang oleh cahaya lampu neon. (salah)
Rumah penduduk di Medan terang benderang oleh cahaya neon. (benar)
3). Pemakaian Kata Depan ”dari” dan ”daripada”
Dalam bahasa Indonesia kita mengenal kata depan dari dan daripada, selain ke dan di. Penggunaan dari dalam bahasa Indonesia dipakai untuk menunjukkan arah (tempat), atau asal-usul.
Contoh :
Bu Ros berangkat dari Bandung pukul 06.30WIB.
Kata dari tidak dipakai untuk menyatakan milik atau kepunyaan.
Dalam bahasa Indonesia kata depan daripada berfungsi untuk membandingkan sesuatu benda atau hal dengan benda atau lainnya.
Contoh:
Sifat Muhammad Yamin lebih sukar dipahami daripada sifat Miswanto.
e. Penekanan
Yang dimaksud dengan ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan..
Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat.
1). Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat).
Contoh:
Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya.
Penekanannya ialah presiden mengharapkan.
Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya.
Penekanannya Harapan presiden.
Jadi, penekanan kalimat dapat dilakukan dengan mengubah posisi kalimat.
2). Membuat urutan kata yang bertahap
Contoh:
Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
Seharusnya:
Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
3. Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contoh:
Saya suka kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.
4. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur.
5. Mempergunakan partikel penekanan (penegasan).
Contoh:
Saudaralah yang bertanggung jawab.
f. Penggunaan Ejaan
Kalimat efektif ditandai pula dengan penggunaan ejaan secara tepat, baik itu dalam hal penggunaan tanda baca, penulisan huruf, maupun dalam penulisan kata.
Contoh :
Seorang mahasiswa seumpama pendai gunung, sedang mendaki gunung cita-cita. (tidak efektif)
Seorang mahasiswa, seumpama pendai gunung, sedang mendaki gunung cita-cita.( efektif).
g. Keparalelan
Yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, kalau bentuk pertama menggunakan nomina. Kalau bentuk pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba.
Contoh:
Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes.
Kalimat tersebut tidak mempunyai kesejajaran karena dua bentuk kata yang mewakili predikat terdiri dari bentuk yang berbeda, yaitu dibekukan dan kenaikan. Kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara menyejajarkan kedua bentuk itu.
Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara luwes.
h. Kecermatan
Cermat ialah kalimat yang dihasilkan tidak menimbulkan tafsir ganda dan harus tepat diksinya. Prinsip kecermatan berart icermat dan tepat menggunakan diksi. Agar tercapai kecermatan dan ketepatan diksi, harus memperhatikan pernyataan-pernyataan berikut ini.
•Hindari penanggalan awalan
•Hindari peluluhan bunyi/ c /
•Hindari bunyi / s /, / p /, / t /, dan/ k / yang tidak luluh
•Hindari pemakaian kata ambigu
i. Kevariasian
Yakni menyusun kalimat dengan variasi tertentu agar tidak monoton atau membosankan. Variasi dimungkinkan oleh hal-hal berikut ini.
1). Variasi dalam pembukaan kalimat yang bisa dibentuk via frase keterangan (cara, waktu, tempat), frase benda, frase kerja, dan partikel penghubung.
Contoh :
Dilemparnya jauh-jauh perasaan cintanya kepada Sharon Stone, setelah mendengar kabar buruk tentangnya.
Pak Agus selalu memasang muka masam, karena melihat murid-muridnya yang malas-malasan.
2) Variasi dalam pola kalimat. Hal ini dapat dibentuk dengan cara mengubah pola kalimat S-P-O misalnya menjadi O-P-S, atau sebaliknya.
3)Variasi dalam jenis kalimat. Variasi ini debentuk dengan mengubah kalimat berita, misalnya menjadi kalimat Tanya atau kalimat perintah.
3. Sebab-sebab kalimat tidak efektif
Berikut ini 8 Sebab Ketidakefektifan Kalimat :
1. Kontaminasi ( merancukan 2 struktur benar 1 struktur salah)
Contoh :
diperlebar, dilebarkan diperlebarkan (salah)
memperkuat, menguatkan memperkuatkan (salah)
sangat baik, baik sekali sangat baik sekali (salah)
2. Pleonasme : pemakaian kata yang mubazir (berlebihan), yang sebenarnya tidak perlu
Contoh :
para hadirin (hadirin sudah jamak, tidak perlu para)* para bapak-bapak (bapak-bapak sudah jamak)
banyak siswa-siswa (banyak siswa)
saling pukul-memukul (pukul-memukul sudah bermakna ‘saling’)
agar supaya (agar bersinonim dengan supaya)
disebabkan karena (sebab bersinonim dengan karena)
3. Tidak Memiliki Subjek
Contoh :
Buah mangga mengandung vitamin C.(SPO) (benar)
Di dalam buah mangga terkandung vitamin C. (KPS) (benar)
Di dalam buah mangga mengandung vitamin C. (KPO) (salah)
4. Adanya kata depan tidak perlu
Contoh :
Perkembangan daripada teknologi informasi sangat pesat.
Kepada siswa kelas I berkumpul di aula.
5. Salah Nalar
Contoh :
waktu dan tempat dipersilahkan. (Siapa yang dipersilahkan)
Silakan maju ke depan. (maju selalu ke depan)
6. Kesalahan Pembentukan kata
Contoh :
mengenyampingkan seharusnya mengesampingkan
mensoal seharusnya menyoal
ilmiawan seharusnya ilmuwan
7. Pengaruh bahasa asing
Contoh :
Saya telah katakan … (I have told) (Ingat: pasif persona) (seharusnya telah saya katakan)
8. Pengaruh bahasa daerah
Contoh :
… sudah pada hadir. (Jawa: wis padha teka) (seharusnya sudah hadir)
Jangan-jangan … (Jawa: ojo-ojo) (seharusnya mungkin)
B. Sintesis Teori Kalimat Efektif
Berangkat dari beberapa konsep yang dipaparkan pada kajian teoretik, dapatlah disintesiskan bahwa pada hakikatnya yang dimaksud dengan penguasaan kalimat efektif – dalam penelitian ini -- adalah kemampuan siswa dalam memahami suatu kalimat yang dapat mewakili secara tepat isi pikiran maupun perasaan yang disampaikan penulis/pembicara dengan yang diterima pembaca/ pendengar sesuai cirri-ciri pembentukannya.
C. Definisi Konseptual Kalimat Efektif
Penguasaan kalimat efektif adalah kemampuan siswa dalam memahami suatu kalimat yang dapat mewakili secara tepat isi pikiran maupun perasaan yang disampaikan penulis/pembicara dengan yang diterima pembaca/ pendengar sesuai cirri-cirinya pembentukannya.
D. Definisi Operasional Kalimat Efektif
Penguasaan kalimat efektif adalah kemampuan siswa dalam memahami suatu kalimat yang dapat mewakili secara tepat isi pikiran maupun perasaan yang disampaikan penulis/pembicara dengan yang diterima pembaca/ pendengar sesuai cirri-cirinya pembentukannya, yang diindikatori dengan pengetahuan dan pemahamannya melalui : 1) Pengetahuan tentang hakikat kalimat efektif, 2) pengetahuan mengenai cirri-ciri kalimat efektif, 3) pengetahuan mengenai sebab-sebab ketidak efektifan kalimat, 4)kemampuan dalam memahami contoh kalimat efektif, dan 5) kemampuan mengubah kalimat tidak efektif menjadi kalimat efektif.
E. Dimensi dan Indikator dalam Mengukur Penguasaan Kalimat Efektif
Sesuai dengan definisi operasional yang telah dinyatakan di atas, dimensi kemampuan penalaran dalam penelitian ini mencakup lima hal, yaitu 1) Pengetahuan tentang hakikat kalimat efektif, 2) pengetahuan mengenai cirri-ciri kalimat efektif, 3) pengetahuan mengenai sebab-sebab ketidak efektifan kalimat, 4)kemampuan dalam menemukan contoh kalimat efektif, dan 5) kemampuan mengubah kalimat tidak efektif menjadi kalimat efektif.
F. Kisi-kisi atau Tebel Spesifikasi Instrumen Tes Penguasaan Kalimat Efektif (Sebelum diuji cobakan)
Variabel Indikator Nomor
Soal Jumlah
Penguasaan kalimat efektif Kemampuan memahami hakikat kalimat efektif 1, 3, 5, 17, 26, 28, 6
Kemampuan menyebutkan ciri-ciri kalimat efektif 11, 15, 18, 19, 22, 29 6
Kemampuan memahami penyebab kalimat menjadi tidak efektif 9, 13, 14, 23, 27, 30 6
Kemampuan dalam menemukan contoh kalimat yang efektif 2, 6, 8, 12, 16, 20 6
Kemampuan mengubah kalimat tidak efektif menjadi kalimat yang efektif 4, 7, 10, 21, 24, 25 6
Jumlah Total 30
G. Penjabaran Butir-butir Soal Tes Penguasaan Kalimat Efektif
1. Petunjuk Umum Mengerjakan Tes
1. Tes ini bertujuan untuk mengetahui seberapa baik penguasaan kalimat efektif Anda dalam berbahasa Indonesia.
2. Jumlah butir soal tes ini ada 40. Anda dianjurkan untuk mengerjakan semua butir soal.
3. Tulis jawaban Anda pada lembar jawab yang telah disediakan dan jangan membuat corat-coret pada lembar soal!
4. Jika Anda selesai mengerjakan, serahkan lembar jawab soal dan lembar jawaban pada pengawas.
5. Setiap butir soal yang Anda jawab dengan benar akan diberi nilai atau skor 1 sehingga skor tertinggi ada 40
6. Waktu yang disediakan bagi Anda untuk mengerjakan tes ini ada 90 menit.
Selamat mengerjakan !
Jawablah soal di bawah ini dengan memberi tanda silang (X) pada huruf A, B, C, atau D sesuai dengan pilihan yang menurut Anda paling tepat!
1. Pembangunan pertanian tidak hanya membatasi pada pengembangan tanaman tradisional. Kalimat di atas dianggap tidak efektif karena adanya penggunaan kata yang salah. Kata yang salah itu adalah…
A. Pembangunan
B. Tidak
C. Membatasi
D. Tanaman
E. Trasisional
2. Kalimat-kalimat di bawah ini TIDAK efektif, KECUALI
A. Pada hari ini merupakan hari yang bersejarah bagiku.
B. Dalam rapat itu sudah menetapkan susunan politis seminar.
C. Kepada para mahasiswa diharapkan berkumpul di aula.
D. Kepada para peserta diumumkan bahwa perlombaan akan dimulai
E. Ia memperoleh banyak keuntungan dari berdagang kain kiloan
3. Kepala dari rumah sakit itu telah dipecat dari jabatannya. Kalimat tersebut dapat dijadikan kalimat efektif dengan cara…..
A. Menghilangkan kata “dari jabatannya”
B. Menghilangkan kata “dari pada”
C. Di belakang kata “itu”diberi tanda koma
D. Menghilangkan kata “pada”
E. Kata “telah”diganti “sudah”
4. Dengan perubahan zaman telah menuntut para pendidik untuk mencari metode mengajar yang baru.
Kalimat tersebut dapat dijadikan kalimat efektif dengan cara
A. Mengubah menuntut menjadi dituntut
B. Meletakkan para pendidik pada awal kalimat
C. Menghilangkan kata dengan
D. Menghilangkan kata telah
E. Meletakkan dengan perubahan zaman pada akhir kalimat
5. Pemakaian kata depan dari pada yang efektif terdapat dalam kalimat :
A. Harga baju di pasar lebih murah dari pada di toko
B. Dari pada duduk sendiri, lebih baik belajar
C. Lebih baik berhati-hati dari pada menanggung resiko
D. Siasat dari pada mereka sudah diketahui lawan politiknya
E. Dari padanya aku menemukan cinta sejati
6. Ditinjau dari susunannya kalimat yang betul adalah
A. Ibu sudah menyiapkan makan pagi.
B. Kami akan sampaikan permintaan maaf kepadanya.
C. Sudah saya sampaikan pesanmu kepada Pak Wahidin.
D. Kamu harus pikirkian masalah ini baik-baik.
E. Kepadanya saya sampaikan pesanmu.
7. Dalam rapat itu membicarakan masalah yang berhubungan dengan kesejahteraan anggota. Kalimat itu dapat dijadiakn kalimat efektif dengan
A. Meletakkan klausa masalah yang berhubungan dengan kesejahteraan anggota pada awal kalimat
B. Mengubah bentuk membicarakan menjadi dibicarakan
C. Menghilangkan kata yang
D. Menghilangkan kata anggota
E. Meletakkan dalam rapat itu pada akhir kalimat
8. Kalimat efektif terdapat dalam pernyataan
A. Kepada yang merasa belum kelas silakan untuk bertanya.
B. Hadirin dilarang merokok.
C. Selain daripada itu, Saudara harus memenuhi syarat-syarat lainnya.
D. Izin diberikan kepada yang telah memenuhi syarat.
E. Isi daripada surat ini adalah pemberitahuan kepada orang tua wali untuk segera melinasi SPP.
9. Jalan raya itu akan segera diperlebarkan. Kalimat tersebut tidak efektif karena
A. Mengandung bentuk kontaminasi imbuhan
B. Menagndung penulisan kata mejemuk yang tidak sesuai dengan EYD
C. Kata-kata dalam frse verbal tersusun terbalik
D. Mengandung pemakaian awalan di- yang menunjukkan situasi
E. Menggunakan kata adalah
10. Saya akan ceritakan semua pengalaman kami.
Kalimat di atas tidak baik susunannya . kalimat yang baik susunanya adalah
A. Semua pengalaman kami, saya akan ceritakan
B. Akan saya ceritakan semua pengalaman kami
C. Pengalaman kami semua saya akan ceritakan
D. Semua akan pengalaman kami saya ceritakan
E. Pengalaman saya akan kami ceritakan
11. Sekretaris itu mengecek daftar nama-nama karyawan. Kalimat tersebut tidak efektif karena tidak memenuhi salah satu syarat kalimat efektif, yaitu..
A. Kepaduan gagasan
B. Kesepadanan struktur
C. Kehematan kata
D. Keparalelan bentuk
E. Kelogisan bahasa
12. Di antara kalimat bawah ini, yang berupa kalimat efektif adalah..
A. Mengenai bahasa nasional dewasa ini menghadapi bermacam permasalahan
B. Berdasarkan keterangan yang diperoleh menunjukkan bahwa pelaksanaan pembangunan gedung itu berjalan dengan baik
C. Dengan garis kebijaksanaan itu memungkinkan pembangunan nasional berhasil
D. Seorang yang menguasai persoalan akan dapat mengemukakan persoalan dengan baik
E. Menurut pendapat para ahli mereka berpendapat bahwa perencanaan bahasa sedang mengalami kendala
13. Bunga-bunga mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya.
Kalimat di atas tidak efektif karena…
A. Tidak sepadan
B. Tidak tegas makananya
C. Tidak hemat
D. Tidak padu
E. Tidak logis
14. Silakan maju ke depan. Kalimat tersebut tidak efektif karena....
A. Adanya kata depan yang tidak perlu
B. Akibat dari salah nalar
C. Adanya kontaminasi
D. Akibat pengaruh bahasa asing
E. Pemakaian kata yang mubadzir
15. Yang dimaksud kesatuan gagasan dalam kalimat efektif adalah…
A. Terdapat unsur S, P, O/ K yang saling mendukung
B. Memiliki kesamaan bentuk atau imbuhan
C. Tidak menggunakan kata-kata yang tidak perlu
D. Ada penekanan pada kata-kata yang penting
E. Mudah dipahami
16. Contoh kalimat yang efektif di bawah ini…
A. Semua peserta seminar diharap balik ke atas agar acara dapat dimulai.
B. Untuk menghemat waktu, acara kita lanjutkan.
C. Waktu dan tempat kami persilakan.
D. Kakak membelikan adik tas dan sepatu sekolah.
E. Kepada Yth. Bpk wali kota kami persilakan.
17. Kalimat yang tersusun baik adalah
A. Mereka yang belum membayar iuran segara dilunasi.
B. Mahasiswa yang meminjam buku itu supaya mengembalikannya.
C. Barang siapa menemukan barang itu supaya diserahkan kepada polisi.
D. Nasabah harus melunasi hutangnya pada waktunya.
E. Sepeda motor dilarang parker di sini!
18. Harga minyak dibekukan atau kenaaikan secara luwes
Contoh kalimat di atas tidak efektif karena tidak mengandung unsur…
A. Keparalelan bentuk
B. Kesepadanan struktur
C. Kehematan kata
D. Kepaduan gagasan
E. Kelogisan bahasa
19. Syarat-syarat kalimat efektif adalah
A. Harmonisasi
B. Hubungan social
C. Keserasian
D. Kebakuan
E. Kesatuan
20. Kalimat di bawah ini tidak efektif, kecuali
A. Kue ini terbuat daripada tepung terigu
B. Data dari penelitian ini dikumpulkan dengan angket
C. Pengamat ekonomi sedang berbicara tenatng fluktuasi nilai rupiah
D. DPR sedang membahas tentang kenaikan harga BBM
E. Lukisan ini merupakan salah satu bentuk karya seni
21. Karena ia tidak diundang dia tidak datang ke tempat itu. Kalimat ini dapat menjadi efektif jika dihilangkan salah satu katanya, yaitu..
A. Karena
B. Ia
C. Tidak
D. Diundang
E. Dia
22. Contoh kalimat di bawah ini yang tidak efektif karena tidak logis adalah…
A. Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu
B. Ia memakai baju warna merah
C. Mereka membicarakan kehendak rakyat
D. Makalah ini akan membahas desain interior
E. Waktu dan tempat kami persilakan
23. Yang termasuk penyebab kalimat menjadi tidak efektif, KECUALI
A. Kontaminasi
B. Tidak memiliki keterangan
C. Tidak memiliki subjek
D. Adanya kata depan tidak perlu
E. Salah nalar
24. Soal itu saya kurang jelas
( tidak efektif ). Kalimat tersebut dapat diubah menjadi kalimat efektif menjadi..
A. Kurang jelas saya soal itu
B. Itu soal kurang jelas saya
C. Itu soal kuarng jelas bagi saya
D. Soal itu bagi saya kurang jelas
E. Jelas kurang itu soal bagi saya
25. Saya akan ceritakan semua pengalaman kami.
Kalimat di atas tidak baik susunannya . kalimat yang baik susunanya adalah
A. Semua pengalaman kami, saya akan ceritakan
B. Akan saya ceritakan semua pengalaman kami
C. Pengalaman kami semua saya akan ceritakan
D. Semua akan pengalaman kami saya ceritakan
E. Pengalaman saya akan kami ceritakan
26. Saran yang dikemukakannya kami akan pertimbangkan. Kalimat tersebut tidak efektif karena terdapat keterbalikan penyususnan pada kata..
A. Saran dan yang
B. Dikemukakannya dan kami
C. Kami dan akan
D. Kemukakannya dan akan
E. Akan dan pertimbangkan
27. Rumah di mana ia tinggal adalah bentuk kalimat yang tidak efektif yang disebabkan oleh?
A. Pengaruh bahsa asing
B. Pengaruh bahasa daerah
C. Tidak bersubjek
D. Salah nalar
E. Kesalahan bentuk kalimat
28. Persoalan minat baca tidak terletak pada beberapa jam seseorang tahan membaca dalam sehari. Namun, menyempatkan diri untuk selalu menyentuh bacaan yang disukai sudah cukup mewakili semangat membaca. Bagi seseorang pembaca sejati, akan menjadikan bacaan sebagai referensi terhadap pemikiran dan tindakannya sehari-hari. Tutur kata dan tata bahasanya baik. Bacaan yang dapat menjadi inspirasi seseorang anak untuk terus menjadi besar dan mewujudkan cita-citanya itu.
Kalimat TIDAK efektif dalam paragraph tersebut terdapat dalam kalimat ke….
A. 1
B. 2
C. 3
D. 4
E. 5
29. Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat agar menjadi efektif, KECUALI..
A. Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat).
B. Membuat urutan kata yang bertahap
C. Menggunakan repetisi
D. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan
E. Paralelisme
30. Kedua pemuda itu saling pukul-memukul setelah bertengkar mulut masalah wanita. Kalimat tersebut tidak efektif karena...
A. Adanya penggunaan kata mubadzir
B. Adanya kontaminasi bahasa
C. Subjek kalimat belum jelas
D. Penggunaan kata depan yang salah
E. Ejaan yang kurang tepat
H. Rumus Uji Validitas Butir dan Reliabilitas Tes Penguasaan Kalimat Efektif
1. Validitas Butir Instrumen
Validitas menunjuk kepada sejauh mana suatu instrumen mampu mengukur rumus Korelasi apa yang seharusnya diukur (Muh Nasir, 1999: 281). Untuk menguji validitas instrumen kemampuan penalaran, digunakan Point Biserial (rpbi), sebagai berikut:
(Djaali, Pudji Mulyono, dan Ramly, 2000: 122)
Keterangan :
rpb (i) = koefisien korelasi point biserial.
= rerata skor jawaban yang benar butir ke-i
= rerata skor total
St = standar deviasi skor total
pi = proporsi jawaban benar untuk butir soal ke-i
qi = proporsi jawaban salah untuk butir soal ke-i
2. Uji Reliabilitas Instrumen
Reliabilitas mengacu kepada sejauh mana suatu alat pengukur secara ajeg (konsisten) mengukur apa saja yang diukurnya (Nasir, 1999:281). Untuk menghitung reliabilitas instrumen kemampuan penalaran, digunakan rumus KR-20 sbb:
(Djaali, Pudji Mulyono, dan Ramly, 2000: 145)
Keterangan :
rii = reliabilitas soal
k = jumlah soal yang valid
piqi = hasil perkalian jawaban benar dan salah
St2 = standar deviasi total
I. Daftar Pustaka
Abdul Aziz. 2009. Sebab Ketidakefektifan Kalimat. http://azizturn.wordpress.com//. (Diakses tanggal 2 November 2010).
Djaali dan Pudji Muljono. 2008. Pengukuran dalam Bidang Pendidikan. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
E. Kokasih. 2008. Ketatabahasaan dan Kesusastraan. Bandung : CV YRAMA WIDYA.
Harimurti Kridalaksana. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Hasan Alwi, dkk. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Hasan Alwi, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Nina Widyaningsih. Kalimat dalam bahasa Indonesia. http://komunitasmahasiswa.info/2009/02/ciri-ciri-kalimat-efektif. (Diakses tanggal 9 Desember 2010).
She2008. Kalimat efektif. http://she2008.wordpress.com. (Diakses tanggal 20 November 2010).
Wahyu Wibowo.2001. Manajemen Bahasa. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Langganan:
Postingan (Atom)